Disarikan dari kitab Ta’limul Muta’alim karya Syekh Az-Zarnuji

Pendidikan di pesantren menjadi solusi paling tepat untuk menghindarkan anak dari bahaya pengaruh pergaulan di luar. Saat anak Anda memasuki usia remaja, melanjutkan pendidikan di tempat terpisah, memilih tinggal di kost, tanpa pengawasan orangtua, siapa yang dapat menjamin anak akan selamat dari pengaruh lingkungan? Namun, memondokkan anak tak berarti menyerahkan anak lalu terima jadi layaknya memesan baju ke penjahit. Pondok pesantren bukan tempat permak anak. Anda bayar lalu hanya tahunya anak jadi alim. Tidak. Tetapi bagi orangtua yang ingin anaknya sukses mendapat ilmu agama, bermanfaat, terlebih berkah, dituntut pula memperhatikan banyak hal. Di antaranya perhatikan 5 hal berikut ini:


1. Ikhlas Memondokkan anak

Dalam rangka mengarahkannya untuk mendapat ilmu agama tergolong ibadah dan menjalankan salah satu dari kewajiban orangtua terhadap anak. Sebagaimana dalam hadits nabi dari Ibnu Abbas menceritakan bahwa para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, kami telah tahu kewajiban anak terhadap orang tua, lalu apa kewajiban orangtua terhadap anak?” Nabi menjawab, “Hendaklah memperindah namanya, dan memperbaiki adabnya” (HR Baihaqi).
Memondokkan anak adalah salah satu cara melaksanakan kewajiban mendidik dan memperbaiki perilaku anak. Selain ikhlas melaksanakan kewajiban, ikhlaskan juga melepas kepergian anak untuk berpisah dari orangtua. Bagaimanapun, ketika orangtua, utamanya ibu masih belum rela sepenuhnya akan kepergian sang anak, sedikit banyak akan mempengaruhi psikologi anak di pesantren. Sering terjadi kasus santri yang tak betah ternyata karena oleh ibunya masih dipikirkan terus. Si ibu belum rela berpisah dengan sang anak.

 

2. Nafkah Halal Secukupnya

Nafkah dari harta yang halal juga mendukung kesuksesan anak di pesantren. Untuk mencari ilmu agama, maka energi yang didapat harus dari jalan halal. Rasulullah Saw. pernah mengajarkan sejumlah anak untuk berpesan kepada orang tuanya di kala keluar mencari nafkah, “Selamat jalan ayah! Jangan sekali-kali engkau membawa pulang kecuali yang halal dan thayyib saja! Kami mampu bersabar dari kelaparan, tetapi tidak mampu menahan azab Allah Swt.,” (HR Thabrani). Selain itu, merelakan anak untuk belajar hidup mandiri dan membiasakan sederhana sangat penting dilakukan. Kiriman uang saku janganlah berlebihan agar kesempatan mondok tidak dijadikan kesempatan menguras harta orangtua. Kebanyakan kasus santri yang malas ternyata justru dari kalangan ekonomi menengah ke atas yang kirimannya berlimpah. Tetapi memang tidak selalu seperti itu adanya. Dalam kitab Ta’limul Muta’alim juga dikisahkan, salah satu ulama ditanya, “Dengan apa Anda bisa meraih kesuksesan belajar?” Ia menjawab, “Karena orangtuaku kaya.”

 

3. Perbanyak Doa

Menyerahkan anak untuk dididik di pesantren bukan berarti orangtua lepas tangan dan hanya perlu menyuplai kiriman uang. Doakan anak Anda dari rumah. Doakan agar memperoleh ketenangan belajar, kesemangatan, dan kemampuan. Doa Anda sebagai orangtua, ditambah dengan perpisahan jarak membuat doa Anda lebih mudah dikabulkan Allah Swt. Sabda Rasulullah Saw. “Doa orang tua bisa menembus hijab” (HR.Ibnu Majah). Rasulullah juga bersabda, “Seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, pastilah malaikat yg ditugaskan kepadanya berkata, ‘Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan’” (HR Muslim).

 

4. Menghormati Guru dan Ulama

Dikisahkan dalam Ta’limul Muta’alim bahwa ayahnya Syekh Khulwani adalah seorang miskin yang berjualan manisan. Meskipun demikian, ia sering memberi manisan kepada para ulama fikih seraya berkata, “Doakanlah anak saya.” Karena kedermawanan dan kesopanannya itulah, sang anak berhasil memperoleh derajat mulia. Pelajarannya, orangtua dianjurkan untuk menghormati para ulama, terlebih yang menjadi guru dari anaknya, sebagaimana santri harus menghormati gurunya. Hal ini yang sering dilupakan orang zaman sekarang. Mereka anggap pesantren itu tempat pendidikan yang komersial, dengan biaya sekian dijamin anak akan jadi ini dan itu. Sang kiai atau ustadz kadang dianggap sebagai guru upahan.
Ada juga orangtua santri yang menuntut pihak pengurus atau kiai ketika anaknya dihukum karena suatu kesalahan. Zaman sekarang sedikit-sedikit HAM, kekerasan dalam pendidikan, ditambah berita yg dibesar-besarkan, membuat dunia pendidikan jadi bingung mengurus anak orang. Menyiasati orangtua yang rewel, sampai-sampai pengurus pesantren menggunakan surat pernyataan khusus saat pendaftaran santri baru. Inti surat itu, bila anak mengalami kesalahan dan menjalani hukuman yang sesuai, orangtua tidak punya hak lagi untuk menggugat ke ranah hukum.

 

5. Perbanyak Sedekah

Syekh Zarnuji, juga menuturkan salah satu nasihat dari gurunya, Syekh Sadiduddin asy-Syairazi yang berkata, “Siapa yg ingin memiliki anak alim, hendaklah menghormati para perantau dari kalangan fuqaha (ahli agama). Muliakan mereka, berikan makanan kepada mereka. Jikalau bukan anaknya yang jadi orang alim, cucunya akan jadi orang alim.” Al-ghuraba’ (perantau) yang dimaksud tidak lain adalah para santri dan juga para guru/ulama.
Terlebih sedekah kepada santri selain pahala sedekah itu sendiri, doa para santri yang dalam perjuangan mempelajari agama bisa diharapkan terijabahnya. Saat menjenguk anak, jangan lupa untuk membawa oleh-oleh untuk teman-teman anak Anda di asramanya. Bila mengirim uang, jangan lupa beri kelebihan dan pesankan untuk bersedekah kepada teman-temannya. Demikian, semoga anak Anda diberi kemudahan belajar dan menjadi generasi saleh.