Pemira 2026: Dua Paslon Adu Gagasan, Siapa Pilihan Murid?

 

Pemira 2026: Dua Paslon Adu Gagasan, Siapa Pilihan Murid?
Pemira 2026: Dua Paslon Adu Gagasan, Siapa Pilihan Murid?

23 Agustus 2025 — Pada tanggal 22 Agustus 2025 malam, terdengar langkah para murid yang memasuki Aula Khadijah untuk menyaksikan debat yang akan disampaikan oleh kedua pasangan calon (paslon). Tepuk tangan pun terdengar ketika para paslon mulai naik ke atas panggung. Di atas panggung, kedua paslon saling menyampaikan visi dan misi untuk mendapatkan kepercayaan dari para murid. Sementara itu, di barisan depan, para panelis tampak memperhatikan dan memikirkan gagasan yang disampaikan oleh masing-masing paslon.

Apa Itu Pemira?

Pemira merupakan salah satu program yang diamanahkan oleh Pawaslu dan dipertanggungjawabkan kepada MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas). Pemira merupakan singkatan dari Pemilihan Raya, yaitu program yang diselenggarakan untuk memilih Presiden BEM yang akan bertugas selama satu kabinet ke depan beserta visi dan misinya.

Sambutan oleh Ustaz Hikmat Romdon

Setelah rangkaian acara formal, seperti pembacaan rundown dan tilawah, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Ustaz Hikmat Romdon selaku WKS Bina Prestasi.

Dalam sambutannya, Ustaz Hikmat Romdon menyampaikan salah satu kutipan dari Al-Qur’an, yaitu Surah Ali Imran ayat 159. Ayat tersebut menjelaskan tentang kelembutan, saling memaafkan, bermusyawarah, serta bertawakal kepada Allah Swt. dalam mengambil sebuah keputusan.

Pesan tersebut selaras dengan pelaksanaan Kampanye Dialogis yang mengedepankan kelembutan dan musyawarah selama acara berlangsung. Setelah sambutan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian visi dan misi dari kedua paslon.

Visi dan Misi Kedua Paslon

Rangkaian acara Pemira terus berjalan hingga tiba pada sesi penyampaian visi dan misi kedua paslon. Paslon nomor urut 1, yaitu Athar Kamil Habibie sebagai calon presiden dan Fatih Mufadhal Firdaus sebagai calon wakil presiden, menyampaikan visi untuk membentuk dan mengelola berbagai perbedaan serta permasalahan secara efektif. Mereka juga ingin menjadikan BEM sebagai media pembentuk generasi pemimpin masa depan yang visioner dan peduli terhadap lingkungan serta sesama.

Adapun beberapa misi yang disampaikan paslon 1 adalah mengurangi miskomunikasi antaranggota, mendorong inisiatif setiap anggota dalam menjalankan tugas, serta mengadakan evaluasi secara objektif untuk meningkatkan kualitas anggota. Beberapa misi lainnya juga disiapkan untuk mendukung kemajuan BEM pada kabinet mendatang.

Sementara itu, paslon nomor urut 2, yaitu Ghulwani Fadlurrahman Valyadif sebagai calon presiden dan Furqon Zain Alauddin sebagai calon wakil presiden, menyampaikan visi untuk membentuk BEM sebagai organisasi penghubung guna mencapai perubahan nyata yang berdampak. Mereka juga ingin menjadikan BEM sebagai wadah pengembangan minat dan bakat siswa dengan tetap menanamkan nilai-nilai Islam dan akhlakul karimah.

Beberapa misi yang disampaikan antara lain mengimplementasikan ekosistem para juara di lingkungan sekolah, memperluas keberdampakan melalui inovasi dan ekspansi yang berkualitas, serta menjadikan BEM sebagai role model atau contoh dalam kehidupan sosial di As-Syifa Wanareja.

Terdengar sorakan dari para murid untuk mendukung masing-masing paslon. Sementara itu, di kursi depan, para panelis tampak berbincang dan berdiskusi untuk menilai gagasan yang telah disampaikan kedua paslon. Kedua paslon pun duduk menunggu arahan MC untuk melanjutkan acara Pemira ke sesi berikutnya, yaitu pertanyaan dari para panelis.

Pertanyaan Menusuk dari Para Panelis

Pertanyaan pertama diajukan oleh Ustaz Hikmat Romdon mengenai upaya membangun lingkungan yang inklusif dan mencegah bullying. Hal tersebut menjadi perhatian karena praktik bullying masih dapat ditemukan di berbagai lingkungan sekolah.

Kedua paslon memberikan jawaban yang cukup beragam. Paslon 1 menyampaikan bahwa mereka akan menanamkan kepedulian antarsesama murid agar tumbuh rasa saling menghargai dalam keberagaman. Sementara itu, paslon 2 berencana memanfaatkan sektor organisasi angkatan untuk mempererat ukhuwah dan solidaritas internal.

Selanjutnya, muncul pertanyaan yang cukup mengguncang seisi Aula Khadijah. Pertanyaan tersebut disampaikan oleh Ustaz Megi Hartandi mengenai kemungkinan program BEM berbenturan dengan kebijakan sekolah.

Paslon 1 menjawab bahwa mereka akan terlebih dahulu mencari tahu tujuan dan manfaat dari kebijakan yang diberikan sekolah. Setelah itu, mereka akan mencari alternatif agar program tetap dapat berjalan. Jika belum menemukan titik temu, mereka akan menyampaikan alasan yang rasional dan logis mengenai pentingnya program tersebut untuk dilaksanakan.

Sementara itu, paslon 2 menyampaikan bahwa mereka akan menganalisis murid yang menolak program untuk mengetahui apakah penolakan tersebut muncul karena ego pribadi atau memang terdapat kekurangan dalam program. Setelah akar permasalahan ditemukan, mereka akan mengkaji kembali program tersebut agar dapat menghasilkan keputusan yang lebih tepat.

Debat Antarpaslon

Sesi yang paling ditunggu akhirnya dimulai, yaitu debat antarpaslon. Pertanyaan pertama datang dari paslon 1 mengenai permasalahan role model. Mereka mempertanyakan bagaimana jika sosok yang dijadikan role model justru melakukan sebuah kesalahan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, paslon 2 menyampaikan bahwa mereka akan melakukan proses penyaringan dan pembinaan terhadap setiap anggota melalui Divisi MSDA.

Selanjutnya, paslon 2 mengangkat topik mengenai sistem reward and punishment. Mereka mempertanyakan kemungkinan sistem tersebut justru merendahkan kelompok yang sudah rajin dan mandiri.

Menanggapi hal tersebut, paslon 2 menjelaskan bahwa reward and punishment bukanlah instrumen penindakan yang dilakukan secara terus-menerus, melainkan sarana untuk memperbaiki kebiasaan buruk yang telah terjadi. Sementara itu, kelompok yang sudah rajin dan mandiri tentu tidak akan melanggar aturan sehingga mereka tidak akan merasa dirugikan.

Setelah debat antarpaslon usai, kedua paslon mulai turun dari panggung sambil menyampaikan jargon masing-masing. Paslon 1 menyerukan, “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh,” kemudian paslon 2 tidak mau kalah dengan meneriakkan, “Matikan Wacana, Nyalakan Aksi Nyata—Sabubukna!”

Gemuruh teriakan para murid pun terdengar begitu kencang memenuhi Aula Khadijah. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama untuk memohon pilihan terbaik dalam pelaksanaan Pemira.

Selanjutnya, para murid diarahkan untuk kembali ke asrama. Kampanye Dialogis ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi seluruh murid untuk mengenal gagasan, visi, dan misi setiap paslon sebelum menentukan pilihan. Lebih dari sekadar ajang pemilihan, kegiatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi peningkatan kualitas organisasi BEM pada kabinet mendatang.