Peringatan G30S/PKI di SMAIT As-Syifa Boarding School Wanareja: Mengenang Sejarah, Menumbuhkan Cinta Tanah Air

Pembacaan puisi di hari peringatan G30S/PKI
Pemabacaan puisi tentang G30S/PKI tentang perjuangan para pejuang dan meneladaninya agar bisa menumbuhkan cinta tanah air, rela berkorban untuk tanah air

30 September 2026–Suasana hari ini sama seperti hari-hari biasanya di SMAIT As-Syifa Wanareja. Murid melaksanakan apel pagi pada pukul 07.00 WIB. Saat tiba untuk menyampaikan materi oleh organisasi di sela-sela apel, tiba-tiba ada beberapa santri yang berteriak kepada seorang santri yang berada di depan kelas, lalu menariknya ke depan semua peserta apel dan menyampaikan kepada semua orang bahwa orang yang ia bawa adalah anak haram, dan drama dari murid kelas sepuluh pun dimulai untuk memperingati G30S/PKI.

Apa Itu G30S/PKI

Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) merupakan gerakan yang dijalankan oleh PKI untuk menculik Jenderal Angkatan Darat. Alasannya adalah Jenderal Angkatan Darat, atau yang disebut Dewan Jenderal oleh PKI, menolak usulan dari PKI yang ingin membentuk angkatan kelima, yaitu angkatan yang berisi buruh tani pro-komunis, dan isu kudeta Soekarno yang semakin mendrong PKI untuk melakukan rencananya.

Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia

PKI yang usulannya ditolak oleh anggota Angkatan Darat untuk membuat angkatan kelima yang berisi buruh tani yang pro-komunis mendapat isu bahwa Angkatan Darat akan melakukan kudeta terhadap Bapak Presiden Soekarno. Oleh sebab itu, PKI menjalankan rapat yang dipimpin oleh D.N. Aidit pada 9 Agustus 1965 yang membahas tentang rencana dan pergerakan yang akan dilakukan selanjutnya. Kejadian berlanjut hingga rapat selanjutnya pada 30 September 1965 yang membahas tentang pematangan gerakan yang akan dilakukan pada dini hari. Setelah semua rapat selesai, PKI pun melaksanakan rencananya.

Saat dijalankannya rencana, ternyata tidak hanya anggota PKI yang ikut dalam penyergapan, tetapi juga tentara Angkatan Darat yang telah dimanipulasi oleh PKI dan menjalankan rencananya dengan berkelompok dan truk yang berbeda-beda, dan Jenderal yang pertama disergap oleh PKI adalah Jenderal TNI Ahmad Yani.

Saat itu, pasukan memberi tahu bahwa Jenderal dipanggil oleh Bapak Presiden Soekarno dan Ahmad Yani langsung percaya dan berkata, “Sekarang? Kalau begitu, tunggulah, saya mandi dan berpakaian dulu.” Pasukan pun membentak dan menegaskan bahwa Jenderal dipanggil dan tidak usah mandi atau ganti pakaian, “Tidak usah berpakaian, Jenderal! Langsung saja.” Merasa harga diri terhina, Jenderal Ahmad Yani pun menampar salah satu pasukan. Jenderal Ahmad Yani berbalik ke kamar untuk berpakaian, lalu ditembak oleh pasukan dan jasadnya dibawa oleh pasukan ke dalam truk. Setelah pasukan pergi, istrinya yang melihatnya pun langsung berteriak histeris dan melumuri darah suaminya ke wajah dan badannya sendiri.

Setelah pasukan yang telah diberi tugas untuk menjemput Jenderal Ahmad Yani selesai, pasukan dari kelompok lain yang telah diberi tugas untuk menjemput Letnan Jenderal R. Soeprapto pergi ke kediaman Letnan Jenderal R. Soeprapto. Saat disuruh ikut untuk pergi karena panggilan Bapak Presiden, Jenderal Soeprapto yang sangat taat pada pemimpin pun langsung setuju dan pergi bersama pasukan menaiki truk. Sebelum pergi, Jenderal Soeprapto izin untuk mengganti baju, namun langsung ditolak dengan tegas dan senapan pun diarahkan ke Jenderal Soeprapto, lalu diseret ke dalam truk.

Kemudian, anggota pasukan yang telah ditugaskan untuk pergi menjemput Letnan Jenderal TNI M.T. Haryono. Saat anggota pasukan datang, Jenderal M.T. Haryono sudah menaruh rasa curiga karena penjemputan di jam yang tidak lazim. Ia mengintip dari rumahnya yang sedang mati lampu bahwa rumahnya sudah dikepung. Anggota pasukan berteriak kepada Jenderal bahwa ia telah dipanggil oleh Bapak Presiden ke Istana Negara, “Jenderal! Dipanggil Presiden ke Istana sekarang!” dan ia menjawab untuk kembali besok, “Kalau mau dipanggil Presiden, besok pagi saja!” beliau meminta anak-anak dan istrinya untuk berlindung di belakang rumah. Menyadari tidak ada jawaban, pasukan mulai menembaki rumahnya dan Jenderal berusaha melawan dalam keadaan mati lampu, namun tetap wafat karena tertembak oleh pasukan dan jenazahnya dibawa oleh pasukan ke dalam truk.

Jenderal selanjutnya yang menjadi incaran pasukan adalah Letnan Jenderal TNI S. Parman. Saat itu, pasukan langsung datang ke rumah Jenderal dan memberitahunya dengan alasan yang sama, yaitu dipanggil oleh Bapak Presiden karena keadaan genting, “Keadaan genting, Pak. Bapak dipanggil Presiden ke Istana sekarang.” Saat itu, istrinya sangat panik karena pasukan yang sedang mengepung rumahnya, lalu ia pun menenangkannya, “Kamu jangan khawatir, situasi di luar sedang genting, saya dipanggil Presiden.” Jenderal langsung percaya tanpa merasa curiga dan meminta izin untuk mengganti pakaian dinas. Beliau pun masuk ke kamar untuk mengganti pakaian dinas. Saat Jenderal di dalam, pasukan memutus kabel telepon agar Jenderal tidak bisa menghubungi pihak luar. Menyadari hal itu, Jenderal memberontak, namun dipaksa masuk ke dalam truk.

Pasukan yang ditugaskan untuk menjemput Mayor Jenderal TNI D.I. Panjaitan pun beraksi. Saat pasukan datang dan menembaki area depan rumah serta memberi tahu bahwa Bapak dipanggil oleh Presiden, Jenderal percaya bahwa ini adalah urusan militer mendesak. Sebelum keluar, Jenderal pamit ke keluarganya, “Kalian tenang saja di sini, saya akan menemui mereka.” Jenderal keluar dari kamar lengkap dengan pakaian dinas. Jenderal diseret secara paksa oleh pasukan. Beliau menolak diseret secara paksa dan meminta waktu sejenak, lalu berlutut di depan halaman rumahnya sambil berdoa. Karena dianggap mengulur waktu dan melawan, pasukan pun menembaki Jenderal dan membawa jasadnya ke dalam truk.

Pasukan selanjutnya datang ke kediaman Mayor Jenderal TNI Sutoyo Siswomiharjo dengan tim yang berbeda. Saat pasukan datang, mereka langsung menggedor-gedor pintu dan saat dibukakan pintunya, pasukan memberi tahu bahwa beliau dipanggil oleh Bapak Presiden. Jenderal bertanya, “Ada apa malam-malam begini? Mendadak sekali?” Pasukan memberi tahu bahwa tidak sempat, “Maaf Jenderal, tidak ada penjelasan. Waktu sangat terbatas, Anda harus menghadap Presiden sekarang.” Begitu keluar, Jenderal langsung disergap dan ditutup matanya, lalu diseret secara paksa untuk masuk ke dalam truk.

Orang terakhir yang dicari adalah Jenderal A.H. Nasution, pasukan langsung masuk ke kediaman dan membuat kegaduhan. Istri Nasution pun melarang suaminya untuk keluar dari kamar dan terjadilah penembakan oleh pasukan. Di saat itu, Jenderal Nasution berusaha kabur dengan cara melewati pagar rumahnya dibantu oleh istrinya dan berhasil. Kaki Jenderal patah saat melompati pagar, namun Jenderal berhasil dengan bersembunyi di halaman di Kedubes Iraq sampai pagi. Ajudan Jenderal Nasution yang bernama Kapten Czi Pierre Tendean keluar setelah mendengar kegaduhan di rumah. Saat ia keluar, pasukan berkata, “Mana Nasution?! Kamu Nasution?!” dan Pierre Tendean menjawab dengan lantang “Saya ajudan Nasution!” Ajudan Nasution mengorbankan dirinya. Namun, karena situasi malam hari yang gelap dan panik, pasukan penculik salah mendengar dan menangkapnya.

Setelah semua Dewan Jenderal diculik, mereka dibawa oleh pasukan ke Lubang Buaya di Jakarta Timur. Semua Jenderal yang telah diculik disiksa sampai mati dan adapun Jenderal yang sudah meninggal dimasukkan ke dalam sumur. Jenderal Nasution yang selamat pun langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mayor Jenderal Soeharto dan mengirim utusan ke Istana untuk melaporkan situasi. Saat itu, Bapak Presiden Soekarno mengamati situasi terlebih dahulu dan Soekarno baru mengambil keputusan setelah sekitar 5,5 bulan. Sementara itu, PKI telah melaksanakan aksinya yaitu, mengambil alih menara radio yang ada di Jakarta, lalu menginformasikan bahwa PKI telah mengambil alih pemerintah melalui menara radio. Orang yang merupakan pro-komunis pun langsung mendukung mengambil alih kekuasaan di daerah sekitar pro-komunis dan menyebabkan kerusuhan hampir di seluruh Indonesia

Setelah menyadari hal itu, Bapak Presiden Soekarno pun mengambil tindakan dengan cara memberikan sebuah surat kepada Soeharto yang disebut sebagai Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret. Dengan ditandatanganinya Supersemar, isi dari Supersemar adalah memberikannya kewenangan terhadap Soeharto untuk melakukan apa pun untuk memberantas PKI dan pada saat itu juga Soeharto langsung menandatangani surat pembubaran PKI secara paksa. Sebelum perintah Supersemar turun, Soeharto telah mengambil tindakan dengan cara memberantas PKI yang ada di menara radio untuk mengambil alih pusat informasi. Setelah berhasil mengambil alih, pasukan Soeharto memberi tahu melalui radio bahwa berhasil mengendalikan tindakan PKI yang ada di Jakarta dan mengimbau masyarakat untuk bertindak waspada, tetap tenang, dan menjaga keamanan sosial.

Setelah mendengar pernyataan bahwa Soeharto telah mengambil keputusan untuk memberantas PKI dan masyarakat Indonesia ikut berjuang bersama polisi setempat untuk memberantas PKI yang berada di daerah-daerah yang dikuasai PKI, orang yang pro-komunis tidak menduga adanya serangan balik dari masyarakat pun terkejut dan ketakutan, lalu lari untuk menghindari masyarakat agar tidak ditangkap atau ditawan. Begitulah cara Indonesia menghadapi masalah PKI yang terjadi pada 30 September 1965.

Peringatan G30S/PKI di SMAIT As-Syifa Wanareja

Suasana hari ini sama seperti biasanya. Pada pukul 07.00 WIB, murid melaksanakan apel di lingkungan SMAIT As-Syifa Wanareja. Saat itu, di sela-sela apel ada materi dari organisasi, namun tiba-tiba ada beberapa murid yang berteriak dari lantai dua, “Woi! Lihat, ini ada anak haram,” yang dimaksud dengan anak haram yaitu seorang murid yang merupakan keturunan PKI dan murid yang keturunan PKI menjawab, “Apa salah saya?” Lalu, murid itu menyangkal dan menegaskan bahwa salah kamu adalah menjadi keturunan PKI. Setelah itu, mereka berhenti dan ada yang membacakan kata-kata tentang PKI. Begitulah drama G30S/PKI yang dilakukan oleh kelas sepuluh.

Harapannya, murid bisa meneladani pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan cara belajar sungguh-sungguh dan menunjukkan sikap cinta tanah air. Oleh karena itu, murid diharapkan bisa membawa Indonesia menuju ke negara yang lebih baik dan maju, serta mempertahankan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pejuang.