
Keseruan yang khidmat, foto ini diambil ketika shalat Idul Adha 1447 H di Lapangan SMA Putri Wanareja
Subang, 2 Juni 2026– Tepat seusai azan magrib berkumandang dari toa masjid, para murid yang sedang berpuasa Arafah hari itu, merasakan kemenangan yang mewah. Mereka baru saja diberikan materi tausiyah petang hari, lalu segera berkumpul dengan para musyrif. Tiba di sana, mereka langsung disuguhkan berbagai takjil istimewa yang jarang dimakan oleh mereka, larut dalam berbuka bersama-sama, lantunan gema takbir menggelegar seantero kampus putra Wanareja, mengartikan dimulailah hari yang penuh berkah dan keseruan.
Esensi dari artikel ini tidak menceritakan mengenai buka puasa, melainkan keseruan aktivitas Idul Adha tahun 1447 H, bertepatan tanggal 27 Mei 2026, hari Rabu di lokasi Kampus Wanareja. Bagi para santri yang bersekolah di As-Syifa, momen Idul Adha merupakan kegiatan spiritual sekali setahun, sebuah momen yang dapat dirasakan bersama-sama terutama bersama teman sejawat. Walaupun jauh dari orang tua, namun kehangatan ukhuwah masih dapat dirasakan dan menciptakan perayaan hari besar ini berwarna dan penuh kegembiraan yang akan membekas di hati.
Tepat setelah jarum jam menyentuh angka enam pagi lebih, hamparan lapangan kampus Wanareja mendingin serta sedikit memutih. Udara sejuk pagi hari di tengah hutan yang sedikit membasahi dedaunan tidak sekali pun menyurutkan semangat para santri. Dengan mengenakan seragam putih bersih dan peci songkok hitam, mereka berbondong-bondong berjalan pelan beriringan bersama teman sekamar.
Pelaksanaan Idul Adha tahun 1447 H, kembali dipusatkan di lapangan SMA Putri Wanareja. Dengan sedikit arahan dari ustad yang telah hadir duluan, pembagian saf antara santri putra dan putri dilakukan secara rapi dan sistematis dengan pembatas yang jelas. Gema takbir yang bersahut-sahut dilantunkan dari barisan depan sejak fajar menyingsing kian menambah syahdu di balik embun pagi itu.
Duduk bersila beralaskan sajadah, berbaur erat bersama-sama serta suara lantang dari ratusan santri putra dan putri yang mengumandangkan gema takbir, tahmid dan tahlil seolah-olah menyatu dalam satu harmoni. Tidak berselang lama, arahan untuk shalat pun terdengar, mengomandoi ratusan tubuh untuk tegak berdiri dalam saf-saf yang lurus, dan rapat.
Pada tahun ini, shalat Idul Adha dipimpin oleh salah seorang Ustad SMP, yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan begitu indah, tartil dan menyentuh hati. Seusai shalat, segera kegiatan dipimpin oleh kepala yayasan As-Syifa Wanareja yaitu Ustad Dr. H. Gozali, Lc., M.Pd. yang langsung naik ke atas mimbar untuk menyampaikan khotbahnya.
Beliau menyampaikan pesan yang mendalam berupa makna pengorbanan, keikhlasan dan ketaatan. Dilanjut dengan penyampaian dari Ustad Soleh Azis Zaelani, S.Pd.I., M.Ag., Gr. dan Ketua Dewan Pembina dr. Suleiman Omar S.Qush.
Saat semua rangkain ditutup dengan untaian doa yang menggetarkan hati para jamaah, tidak sedikit para santri ataupun guru dan wali asrama yang menundukkan kepala dalam-dalam sambil disembur oleh cahaya pagi hari. Begitu doa selesai, para santri putri diberikan arahan untuk pergi duluan yang diikuti oleh putra. Di waktu yang bersamaan aba-aba untuk saling memaafkan juga terjadi, jabatan tangan antara santri, guru, wali asrama serta staf-staf As-Syifa begitu erat dan saling menguatkan di antaranya.
Begitu acara selesai dari lapangan SMA Putri, santri putra segera mengambil makanan dari dapur untuk sarapan pagi. Langkah kaki mendadak menjadi seru dan penuh semangat. Menu sarapan saat itu merupakan lontong nasi dicampur potongan opor ayam, menjadikannya asupan energi yang sangat penting.
Begitu acara selesai dari lapangan SMA Putri, santri putra segera mengambil makanan dari dapur untuk sarapan pagi. Langkah kaki mendadak menjadi seru dan penuh semangat. Menu sarapan saat itu merupakan lontong nasi dicampur potongan opor ayam, menjadikannya asupan energi yang sangat penting.
Usai sarapan, para santri yang telah mendaftarkan diri sebagai pekurban, segera berkumpul di area LTIQ. Momen ini menjadi pengalaman spiritual yang nyata diwujudkan, tahun ini sebanyak 91 ekor kambing dan 5 ekor sapi sebagai bentuk kepedulian sesama. Para pekurban juga akan mendapatkan pengalaman mendebarkan ketika mereka dipandu untuk memotong leher hewan kurban mereka.
Setelah prosesi penyembelihan selesai yang disaksikan banyak orang, di samping agak jauh dari tempat pemotongan telah tersedia pos-pos pengolahan daging. Hewan yang baru saja dipotong segera digantung dan dikuliti secara teratur dan bersih, ini dilakukan oleh berbagai staf panitia yang telah berkolaborasi antara ustad, wali asrama dan staf As-Syifa . Mereka memisahkan daging dari tulang dan bagian jeroan. Tepat di sampingnya ada beberapa staf kurban memotong daging menjadi kecil kemudian dikelompokkan dan ditimbang dengan akurat. Terakhir potongan kecil itu dikemas ke dalam wadah tertutup dan siap dibagikan.
Memasuki waktu siang, halaman parkir putra disulap menjadi tempat keseruan kegiatan sate. Tepat seusai makan siang, beberapa ustad kelas 11 sudah menyiapkan tempat pembakaran sate yang cukup kecil dan arang lumayan banyak. Pembuatan sate juga dibagi sesuai dengan musyrifnya masing-masing. Berbeda dengan SMP yang sudah mulai duluan sebelum sholat zuhur, santri kelas 11 baru memulai keseruan ini selepas menunaikan shalat zuhur.
Begitu daging kurban telah tiba, halaman parkir putra langsung berubah menjadi ramai, setiap kelompok bergegas membagi tugas, ada yang membuat bumbu satenya, ada yang memotong dagingnya dan ada juga yang memanaskan tungku pembakarannya. Di sela-sela kepulan asap, interaksi antara musyrif dan anak didikannya juga sering terjadi, akrab dan hangat, berbaur serta bercanda. Sesekali para musyrif memberikan tips penting dalam membuat bumbu, membakar tungku atau bahkan ikut serta dalam pembuatan pemotongan daging.
Setiap kamar berusaha tampil terbaik karena akan ada hadiah bagi para pemenang yang membuat sate terenak, kegiatan ini terus berlanjut hingga sore hari usai shalat asar. Aroma harum dari kepulan asap kini tergantikan dengan aroma gurih sate yang telah jadi, siap untuk dimakan bersama-sama. Keseruan semakin lengkap ketika beberapa murid membawa nasi yang banyak, kemudian beberapa kelompok terlihat membuat lingkaran dan duduk bersama musyrif mereka di lapangan parkiran, namun ada juga yang mereka menyantap makanan mereka bersama musyrif di kamar asrama.
Leave a Comment