
Tausiyah petang hari bersama Ustad Fajri di tengah lapangan basket SMA Putra
Subang, 27 Mei 2026– Langit subuh terbentang di udara, sesekali angin dingin menyelimuti para santri yang hendak pergi ke masjid. Sesaat kemudian, azan subuh berkumandang dan para murid SMA Putra di asrama turut menggiring kaki mereka menuju An-Najah alias masjid andalan SMA Putra. Walau mata dan tubuh terasa kantuk dan lemas, kewajiban perlu ditunaikan. Lengkaplah sudah para santri berkumpul baik itu kelas 10 dan 11 ketika iqamat bergema di toa masjid, terlaksana salat subuh.
Seusai salam terakhir diucapkan, para hadirin di masjid An-Najah segera membaca Al-Ma’tsurat dan menyelesaikannya. Tanggal 26 Mei 2026, hari Senin, bisa dikatakan sebagai salah satu hari dengan asupan nutrisi agama terbanyak. Pasalnya pada hari itu terjadi dua kali tausiyah keagamaan dengan menyongsong materi persiapan Idul Adha pada bada subuh dan sebelum berbuka, serta khataman Al-Qur’an yang dilakukan sebelum memasuki waktu KBM, kegiatan belajar mengajar.
Berlokasi di dalam masjid An-Najah, para santri sedikit dikagetkan dengan acara dadakan tausiyah agama. Biasanya selepas pembacaan Al-Qur’an akan ada kumpul halaqah dengan para musyrif, tepat pada hari itu terjadi kejadian tidak biasa. Dipandu Ustad Gusofi, para santri disuruh untuk membuat formasi barisan yang biasa dipakai ketika mendengar materi. Masih dalam kebingungan dan sedikit kantuk, Ustad Gusofi memberitahukan informasi mengenai tausiyah fajar dini hari yang akan disampaikan oleh Ustad Fajri, selaku Kepala Asrama.
Begitu Ustad Fajri berdiri dan duduk di tempat yang telah disediakan oleh anak Rohis, kondisi masjid seketika hening. Dengan pembawaan yang karismatik namun tetap santai, beliau menyampaikan tausiyah dengan sebuah senyuman tipis. Tiba-tiba saja, beliau memberikan instruksi untuk berdiri, hal ini menciptakan suasana yang semakin bingung, tanpa berpikir dua kali para santri segera berdiri. Beliau kembali berkata untuk merentangkan tangan ke atas dan melakukan pergerakan kecil ke kiri dan ke kanan. “Supaya kantuk kalian hilang kita olahraga dulu sebentar”, ujar Ustad Fajri.
Setelah suasana kembali segar dan berbagai suara memecahkan keheningan subuh, beliau mempersilahkan duduk kembali dengan posisi yang masih sama sebelum berdiri. Tanpa basa-basi dengan cepat, Ustad Fajri langsung membuka inti kajian dini hari itu. Beliau menerangkan kembali materi tentang hewan kurban, namun lebih mendalam dari materi sekolah yang biasa diajarkan.
Materi yang disampaikan kali ini meliputi mengenai hewan apa saja yang bisa dikurban, berapa tahun hewan bisa dikurban, syarat kesehatan apa saja yang tidak diperbolehkan dan lain-lain. Beberapa kali dalam tausiyah Ustad Fajri melemparkan pertanyaan “Kira-kira jika hewan kurban kupingnya tersayat atau sedikit terpotong, apakah masih bisa dikurbankan”. Mendengarkan pertanyaan ini membuat semua murid bingung, ada yang menjawab tidak boleh namun ada juga yang boleh dikurbankan dalam ucapan sedikit ragu. Segera beliau mengatakan “Boleh! Memang hewan cacat yang membuatnya tidak sah adalah cacat buta sebelah, pincang parah atau sakit yang jelas”.
Hal itu membuat murid mengangguk paham. Rasa kantuk yang tadi menggantung kini benar-benar hilang. Materi lanjutan ini memberikan para murid ilmu yang benar-benar baru yang sangat detail dan bisa dipakai ketika memilih hewan kurban. Suasana ini terus berlanjut tanpa sadar sampai jam 6 pagi, mengetahui sekarang adalah waktu untuk bersiap sekolah, Ustad Fajri segera menyelesaikan Tausiyah pagi hari.
Pagi hari, pukul 7 lebih sedikit. Para murid yang telah diberitahu sebelumnya mengenai acara khataman bergegas menuju ke masjid An-Najah. Acara dibuka dan semua murid mulai melantunkan ayat suci Al-Quran, setiap sisi masjid dipenuhi gema tartil yang saling susul menyusul. Para guru dan wali asrama turut hadir pada kegiatan ini, kolaborasi ini menjadi simfoni zikir yang menggetarkan hati serta jiwa.
Setelah gema khataman Al-Qur’an berakhir dengan doa khusyuk oleh Kepala Sekolah SMAIT As-Syifa Wanareja, Ustad Soleh. Beliau kemudian maju dan memberikan sedikit materi mengenai manfaat dari puasa Arafah. Beliau menegaskan bahwa puasa Arafah merupakan puasa yang luar biasa karena memiliki keutamaan penghapusan dosa 2 tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Beliau juga berpesan kesempatan ini jangan dilewati begitu saja dan berharap sebagai penyempurna bekal ketakwaan kita.
Memasuki waktu hendak berbuka puasa Arafah, kegiatan tausiyah kembali dilakukan, para santri yang telah keluar dan membeli takjil berbuka, merapat menuju tengah lapangan basket SMA Putra. Sebagai acara tausiyah terakhir, yaitu tausiyah petang. Pada sesi penutup kali ini, disampaikan kembali oleh Ustad Fajri dengan materi kesabaran luar biasa dari Nabi Ibrahim saat ketika diberikan ujian untuk menyembelih anaknya sendiri Nabi Ismail.
Ustad Fajri mengupas tuntas bagaimana keikhlasan serta kepatuhan mutlak Nabi Ibrahim kepada Allah walau telah diberikan ujian tidak punya anak lebih dari 80 tahun. Sebuah teladan kesabaran yang menggetarkan hati para santri di tengah penantian azan magrib. Tausiyah petang ini pun resmi berakhir dengan berbagai asupan nutrisi keagamaan menjelang Idul Adha.
Leave a Comment