TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG IBLIS DAN SETAN

AYAT-AYAT TENTANG IBLIS DAN SETAN

  • Al-Baqarah [2]: 168, 208 dan 275

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ  ١٦٨

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ  ٢٠٨

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ  ٢٧٥

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

  • Al-An’am [6]: 112-113

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ  ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ  ١١٣

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (112) Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (113)

  • An-Nisa` [4]: 120

يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا  ١٢٠

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

  • Al-Kahfi [18]: 50

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا  ٥٠

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

  • Thaha [20]: 117

فَقُلۡنَا يَٰٓـَٔادَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوّٞ لَّكَ وَلِزَوۡجِكَ فَلَا يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ  ١١٧

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.

  • Al-A’raf [7]: 16 – 17, 21 dan 27

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ  ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ  ١٧

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (16) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (17)

وَقَاسَمَهُمَآ إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ  ٢١

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ  ٢٧

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

  • An-Nahl [16]: 63

تَٱللَّهِ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ ٱلۡيَوۡمَ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ  ٦٣

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.

  • Fathir [35]: 6

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ  ٦

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

  • Fushilat [41]: 25

۞وَقَيَّضۡنَا لَهُمۡ قُرَنَآءَ فَزَيَّنُواْ لَهُم مَّا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَحَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلُ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ خَٰسِرِينَ  ٢٥

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.

ASBABUN NUZUL AYAT

  • Al-Baqarah [2]: 168

Imam Wahbah Az-Zuhaili berkata dalam tafsirnya, bahwasanya ayat ini berkenaan dengan suku Tsaqif, Khuza’ah, dan Amir bin Sha’sha’ah. Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy dan Imam Al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa ayat ini berkaitan dengan suku Bani Mudlij. Mereka mengharamkan pada diri mereka sendiri pada sejumlah tanaman dan hewan ternak, dan juga mengharamkan Bahirah, Saibah, Washilah dan Haam.[1] Bahirah adalah hewan yang tidak boleh diperah susunya demi berhala. Saibah adalah hewan yang telah dinazarkan untuk berhala, dibiarkan bebas dan tidak boleh ditunggangi. Washilah adalah domba jantan yang terlahir kembar dengan domba betina dari satu induk domba, ia tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.[2] Dan melakukan yang demikian itu merupakan salah satu dari jalan-jalan yang dilakukan oleh Setan.

  • Al-Baqarah [2]: 208

            Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir, dari ‘Ikrimah, ia berkata: “Abdullah bin Sullam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad Ibna Ka’ab, Sa’id, Ibnu ‘Amr, Qays bin Zayd yang semuanya adalah muallaf dari bangsa Yahudi, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, hari Sabtu adalah hari yang kami agungkan, maka biarkanlah kami tetap melaksanakan apa yang biasa kami lakukan pada hari tersebut. Dan sesungguhnya Tauret adalah kitab Allah, maka biarkanlah kami menjalankan (apa yang diperintahkan) dalam kitab ini pada setiap waktu malam.” Maka turunlah ayat ini.[3]

Pada keterangan lain, disebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan Abdullah bin Sullam dan teman-temannya, yang mengagungkan hari Sabtu dan enggan memakan daging unta setelah mereka masuk Islam. Maka, kaum muslimin pun ada yang mencela mereka. Maka turunlah ayat ini.[4]

  • Al-Baqarah [2]: 275

Setelah Allah menceritakan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, kemudian dengan ayat ini Allah menceritakan tentang orang yang memakan riba dari harta kekayaan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan, serta berbagai macam syubhat. Lalu Allah mengibaratkan keadaan mereka pada saat bangkit dan keluar dari kubur ada hari kebangkitan. Allah taala berfirman : (“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila.”) Artinya, mereka tidak dapat berdiri dari kuburan mereka pada hari kiamat kelak kecuali seperti berdirinya orang gila pada saat mengamuk dan kerasukan setan. Yaitu mereka berdiri dengan posisi yang tidak sewajarnya. Ibnu Abbas mengatakan : “Pemakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan gila yang tercekik”.

  • Al-An’am [6]: 112-113

Ayat ini diturunkan satu paket dari ayat 111 sampai 113. Dalam sebuah keterangan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sekelompok orang kafir Mekkah beserta pemukanya yang mendatangi Nabi Muhammad saw. Mereka berkata: “Tunjukkan kepada kami para malaikat yang dapat menjadi saksi bahwa kamu adalah Rasulullah! Atau bangkitkan beberapa orang yang sudah mati dari golongan kami sehingga kami bisa menanyai mereka, apakah yang kamu katakan itu benar atau tidak? Atau hadapkanlah Allah dan para malaikat kepada kami.” Lalu, atas peristiwa itu, turunlah ayat ini.[5]

  • An-Nisa` [4]: 120

Ayat ini diturunkan satu paket dengan ayat sebelumnya dari surat An-Nisa` ayat 116, khususnya sebagai penjelas dan penegas atas penjelasan Allah swt. pada ayat-ayat sebelumnya ini.

Dari awal ayat 116, telah menceritakan betapa besarnya dosa syirik kepada Allah swt., bahkan Allah swt. sendiri enggan mengampuni dosanya. Kemudian pada ayat-ayat berikutnya, 117 dan 118 diceritakan tentang perbuatan-perbuatan syirik yang dulu sering dilakukan oleh bangsa Arab jahiliah, yakni seperti menyembah dan menganggap malaikat-malaikat Allah adalah anak perempuan-Nya. Kemudian dosa besar lainnya yang disebutkan pada ayat ini adalah mengubah bentuk ciptaan Allah swt. Maka dari itu, inilah tujuan ayat ini diturunkan.

  • Al-Kahfi [18]: 50

Ayat serupa ini banyak kali disebutkan dalam Alquran, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 34, kemudian pada surat Al-Hijr ayat 28 dan 29, dan juga pada surat Al-Kahfi ayat 50 ini. Ayat ini diturunkan bertujuan sebagai peringatan yang ke sekiaan kalinya dari Allah swt. kepada umat manusia tentang permusuhan antara iblis dan manusia, dan juga sebagai celaan kepada mereka yang menaati iblis dan mendurhakai Allah swt. atas segala perintah-Nya.[6]

  • Thaha [20]: 117

Ayat ini diturunkan bertujuan agar untuk selalu berhati-hati dan waspada terhadap tindak tanduknya (iblis). Jangan sekali-kali terbawa rayuan yang berupa nasehat atas anjuran. Sungguh, tidak ada tujuan kecuali menimpakan atau malapetaka kepadanya.

  • Al-A’raf [7]: 16-17

Ayat ini (16) diturunkan bertujuan agar mengambil atau menempuh jalan yang lurus yang tidak tercegah dan terhalangi oleh iblis. Dan ayat (17) bertujuan agar selalu yakin dengan ajaran agama islam dan tetap fokus kedepan. Karena iblis memiliki banyak cara atau strategi untuk melemahkan anak cucu Adam dari segala penjuru.

  • Al-A’raf [7]: 21

Ayat ini bertujuan bahwa Iblis menguatkan bisikan jahat dan tipu dayanya dengan bersumpah kepada Adam dan Hawa bahwa sebenarnya dia adalah pemberi nasehat yang benar-benar menginginkan kebahagiaan keduanya dan apa yang dinasehatkannya itu benar.

  • Al-A’raf [7]: 27

Allah taala mengingatkan anak cucu Adam dari iblis dan pengikut-pengikutnya dengan menerangkan kepada mereka permusuhan yang pernah dilakukan oleh iblis pada waktu dulu kepada bapak (seluruh) manusia, yaitu Adam as., dalam usahanya mengeluarkan Adam dari surga yang merupakan tempat yang penuh dengan kelelahan dan kepayahan, serta yang menyebabkan terlepasnya penutup auratnya setelah sebelumnya tertutup rapat. Yang demikian itu tidak lain adalah merupakan sebuah permusuhan yang mendalam.

  • An-Nahl [16]: 63

Ayat ini bertujuan dengan Allah mengutus banyak rasul kepada umat sebelum Nabi untuk mengajak mereka untuk beriman dan beribadah kepada Allah swt. agar tidak tertipu daya setan.

  • Fathir [35]: 6

Setan itu adalah musuh kalian yang terang, maka musuhilah setan itu oleh kalian dengan permusuhan yang keras. Tentanglah mereka bila membujuk kalian untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Tujuan setan adalah menyesatkan kalian hanyalah agar kalian masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala bersama-sama dengan mereka; setan adalah musuh yang jelas. Kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita sebagai musuh-musuh setan dan hendaknyalah Dia memberi taufik kepada kita untuk mengikuti petunjuk Alquran-Nya dan mengikuti jejak Rasul-Nya.

  • Fushilat [41]: 25

Allah menerangkan bahwa Dia telah menyediakan bagi orang kafir itu teman dan penolong berupa setan-setan dari golongan jin dan manusia. Mereka menganggap perbuatan-perbuatan duniawi yang membawa kepada kesesatan dan kekafiran itu baik, seperti memperturutkan hawa nafsu, suka mengumpulkan harta semata-mata untuk kepentingan diri sendiri, gila kekuasaan, mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat dan terlarang. Demikian halnya dengan urusan-urusan akhirat, setan-setan itu telah menanamkan kepercayaan kepada hati manusia bahwa tidak ada surga atau neraka, tidak ada hidup sesudah mati, tidak ada kebangkitan dan hisab, tidak ada Tuhan yang wajib disembah, dan sebagainya. Oleh karena itu, mudah bagi mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang mereka inginkan dan melakukan perbuatan-perbuatan terlarang.

MUNASABAH AYAT

  • Al-Baqarah [2]: 168

Para mufasir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa munasabah ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya, yang menjelaskan tentang kejahatan dan keburukan dari perbuatan syirik kepada Allah swt., dan menjelaskan tentang bagaimana ke-Maha Kuasa-nya Allah swt., kemudian pada ayat ini dijelaskan tentang ke-Maha Pemberi Rizki-annya Allah swt. kepada makhluk-Nya. Serta menjelaskan kepada seluruh makhluk-Nya, mana saja makanan-makanan yang halal dan baik, dan mana saja makanan yang haram serta buruk.[7] Ayat ini juga berkaitan dengan Alquran surat Fathir ayat 6, yang berisi imbauan kepada manusia agar selalu waspada dan menjauhi segala macam bentuk bisikan Setan.

  • Al-Baqarah [2]: 208

             Ayat ini mempunyai hubungan atau munasabah dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu dari ayat 204 sampai 207. Yaitu pada ayat-ayat ini menjelaskan tentang tipe-tipe manusia, ada yang munafik, perusak dan sombong, dan ada pula manusia yang senantiasa mengharap rida Allah swt. Kemudian setelah ayat-ayat ini disambung dengan seruan dari Allah swt. kepada hamba-hamba yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara sempurna (kaffah). Hal ini bertujuan juga sebagai himbauan dari Allah swt. kepada orang beriman untuk masuk Islam secara total dan meninggalkan segala macam kemunafikan.[8] Pada ayat ini juga bisa dikatakan, setelah Allah swt. menjelaskan dua macam tipe manusia, pada ayat ini dihimbau agar mereka semua saling bersatu dalam Islam, dan tidak berpecah belah. Maka jika demikian, ayat ini pun bisa bermunasabah juga pada surat Ali-Imran ayat 102 dan 103.

  • Al-Baqarah [2]: 275

Persesuaian Surah Al-Baqarah dengan Surah Ali Imran :

  • Dalam surah Al-Baqarah disebutkan Nabi Adam as. yang langsung diciptakan Tuhan, sedang dalam surah Ali Imran disebutkan tentang kelahiran Nabi Isa as., yang kedua-duanya dijadikan oleh Allah menyimpang dari kebiasaan.
  • Dalam sutrah Al-Baqarah sifat dan perbuatan orang Yahudi dibentangkan secara luas, disertai dengan hujjah untuk mematahkan hujjah-hujjah mereka yang membela kesesatan, sedang dalam surah Ali Imran dibentangkan hal-hal yang serupa yang berhubungan dengan orang Nasrani.
  • Surah Al-Baqarah dimulai dengan menyebutkan tiga golongan manusia, ialah orang-orang mukmin, orang-orang kafir, dan orang-orang munafik, sedang dalam surah Ali Imran dimulai dengan menyebutkan orang-orang yang suka menta’wilkan ayat yang mutasyabihat dengan ta’wil yang salah untuk memfitnah orang mukmin dan menyebutkan orang yang mempunyai keahlian dalam menta’wilkannya.
  • Surah Al-Baqarah disudahi dengan permohonan kepada Allah agar diampuni kesalahan-kesalahan dan kealpaan dalam melaksanakan ta’at, sedang surah Ali Imran disudahi dengan permohonan kepada Allah agar Dia memberi pahala atas amal kebaikan hamba-Nya.
  • Surah Al-Baqarah dimulai dengan menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa, sedang surah Ali Imran dimulai dengan perintah bertakwa.
  • Al-An’am [6]: 112-113

            Terkait munasabah surat Al-An’am ayat 112 dan 113 ini, bisa berkorelasi dengan surat Al-An’am ayat 34: “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” Dan juga terdapat munasabah dengan surat Al-Furqan ayat 31: “31.  Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.”[9]

Keterkaitan antar ayat-ayat ini menjelaskan tentang pemberitahuan dari Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. terkait musuh-musuh yang akan dihadapinya dalam perjuangan dakwah Nabi Muhammad saw. Ini cukup memberitahukan kepada Nabi saw. dan juga kepada kita bahwa musuh yang nyata dari umat manusia dan apa yang dihadapi oleh para nabi sekalipun, bukan hanya menghadapi manusia saja, melainkan dengan para jin, setan dan iblis juga yang bertindak sebagai kepalanya segala kejahatan.

  • An-Nisa` [4]: 120

Ayat ini berkorelasi dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu dari ayat 116. Di mana Allah swt. membuat perbandingan antara kejahatan syirik dan bahayanya, tingkah dan perbuatan setan, pelaknatan dan hukuman terhadap dirinya, serta iman dan amal saleh berikut balasannya.[10] Pada ayat-ayat ini dijelaskan bahwasanya setan itu selalu menyeru pada kejahatan dan keburukan. Targetnya adalah para keturunan Nabi Adam as. di mana setan sendiri sudah berjanji akan menyesatkan keturunan Adam as. hingga hari kiamat nanti. Dan hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat teguh hatinya menahan godaan setan dari segala bisikan jahatnya.

Kemudian ayat inipun dapat bermunasabah dengan surat Ibrahim ayat 22:

            “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.”[11]

Ini menandakan bahwasanya tipu daya setan yang selalu dibisikan pada hati manusia mengenai angan-angan yang serasa penuh kenikmatan selama hidup di muka bumi ini, ia tidak akan bertanggung jawab ketika pada hari perhitungan, apa yang pernah dijanjikan oleh setan itu tidak terkabul dan terlaksana, melainkan akan membawa celaka dan kesengsaraan bagi umat manusia itu sendiri. Dan demikianlah besarnya tipu daya setan itu kepada manusia.

  • Al-Kahfi [18]: 50

Ayat ini mempunyai korelasi dengan ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan tentang perbuatan orang musyrik yang sombong karena menilai dirinya lebih mulia sebab harta dan pengikut mereka, dan menganggap hina atau rendah kepada kaum Muslim karena mereka adalah orang-orang miskin dan sedikit pengikutnya, dengan sikap iblis yang menganggap hina atau rendah nabi Adam as. ketika Allah swt. memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam as.

Pada sikap keduanya (orang musyrik dan iblis) terdapat kemiripan, yaitu sombong. Bila orang musyrik sombong terhadap orang muslim, bila iblis sombong terhadap perintah Allah swt. dan kepada nabi Adam as. Ia merasa sombong karena merasa diri lebih baik dari pada Adam as., ia diciptakan dari api, sedangkan Adam as. diciptakan dari tanah. Lantas sikap yang demikianlah yang menjadikan Allah swt. menghukum iblis dengan mengeluarkannya dari surga, dan melaknatnya menjadi penghuni neraka. Dan alasan ini juga lah kenapa Allah menceritakan ayat seperti ini beberapa kali. Sebab, dalam beberapa ayat lainnya juga bisa mengandung konteks lain yang bisa diambil pelajarannya.

  • Thaha [20]: 117
  • Asumsi: Allah memberi peringatan kepada Adam as. Tentang permusuhan iblis kepada Adam dan cucunya bahwa iblis itu merupakan musuh bagimu dan juga istrimu. Oleh karenanya, Adam diperintahkan untuk berhati-hati dengan segala tibu daya iblis yang bisa menyebabkan Adam dan istrinya keluar dari surga.
  • Definisi: Hubungan antara ayat dengan ayat. Sebelum dan sesudah ayat.

            Sebelum ayat, (117) ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya (116) yang membicarakan tentang perintah Allah kepada para malaikat untuk sujud kepada Adam as. Sebagai tanda penghormatan dan pemuliaan juga menjelaskan tentang permusuhan iblis terhadap anak cucu Adam dan kepada Adam sendiri dengan menolak perintah Allah atau membangkang perintahNya karena iblis merasa mulia daripada Adam as [12]. Menurut M. Quraish Shihab ayat ini (117) berkaitan juga dengan ayat sebelumnya (115). Pada ayat 117 merupakan salah satu perincian pesan dari apa yang disinggung sepintas menyangkut Adam as pada ayat ini yaitu Allah telah memberi pesan pada Adam untuk tidak terperdaya oleh setan[13]. Setelah ayat, menurut Hamka dalam tafsirnya yaitu ayat (120) yang merupakan kejadian yang diperingatkan oleh Allah pada ayat sebelumnya menjadi kenyataan, dimana Adam dan istrinya termakan rayuan iblis.[14] Dengan ayat lain, pada ayat ini terdapat kesamaan kandungan atau makna pada ayat lain yaitu pada surat Al-Baqarah: 34, Al-A’raf:11 yang memiliki hubungan yang sama yang menjelaskan bahwa penyebab iblis adalah musuh Adam dan anak cucunya yang telah di jelaskan pada ayat (117) yaitu ia tidak ingin sujud kepada Adam padahal ia diperintahkan oelh Allah swt. bahkan ia menyombonhkan dirinya dengan mengatakan bahwa ia lebih mulia dari pada Adam, seperti pada suran al-A’raf:12.

  • Al-A’raf [7]: 16-17
  • Definisi: hubungan dengan ayat lain (kesamaan kandungan)

Pada ayat (16-17) memiliki kesamaan kandungan dengan surat Al-Hijr (39). (39) yang berarti menurut Imam Abu Ja’far Ath-Tabari mengatakan, saya akan mendatangi mereka dari segala sisi kebenaran dan kebatilan, dan akan menghalangi mereka dari kebenaran dan akan memperindah kebatilan untuk mereka. Dan saya benar benar akan menghalangi mereka dari jalan yang lurus.[15]

  • Al-A’raf [7]: 21
  • Definisi: hubungan dengan ayat lain (kesamaan kandungan)

Pada ayat ini memiliki persamaan kandungan dengan surat Yusuf (11) yang keduanya menjerumusakan kedalam kemaksiatan berupa nasehat. Dalam surat Yusuf (11) yaitu nasehat yang justru menjerumuskan orang lain ke dalam bahaya, seperti yang digambarkan dalam kisah perjalanan nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya yang hendak membunuhnya.

  • Al-A’raf [7]: 27

Persesuaian Antara Surah Al-A’raf dengan Surah Al-Anfal: Akhir surah Al-A’raf mengemukakan keadaan beberapa orang rasul sebelum Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi kaumnya, sedang permulaan surah Al-Anfal menerangkan keadaan Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi umatnya.

Permusuhan antara Adam dan iblis di Surga kemudian dilanjutlan dengan permusuhan antara manusia yang menerima petunjuk Allah dengan yang mengingkarinya, hal ini diterangkan dalam surah Al-A’raf. Hal yang serupa diterangkan lebih jelas dalam surah Al-Anfal sebagaimana pertentangan kedua golongan itu, serta tingkah laku mereka dalam peperangan Badar.

Persesuaian Ayat: Setelah memerintahkan Adan dan Hawwa agar turun ke bumi dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal mereka, Allah menjelaskan bahwa Allah swt. nenurunkan semua yang mereka butuhkan dalam urusan agama dan dunia. Di antaranya adalah pakaian yang dibutuhkan untuk urusan agama dan dunia. Yang demikian itu menghendaki syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang agung dan ibadah kepada-Nya dengan hak.

  • An-Nahl [16]: 63
  • Definisi: hubungan dengan ayat lain (kesamaan kandungan)

Dalam surat An-Nahl, Allah mengatakan, bahwa air madu yang keluar dari lebah merupakan minuman yang mengandung obat bagi manusia, maka dalam surat Al-Isra (82) diterangkan bahwa Alquran pun mengandung juga obat obatan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

  • Fathir [35]: 6

Pada bagian akhir surah Fathir dikemukakan bahwa orang-orang musyrik bersumpah akan beriman apabila datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (Rasul), tetapi setelah datang kepada mereka Rasul, mereka mengingkarinya. Pada permulaan surah Yaasiin Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah seorang Rasul yang selalu berada di jalan yang lurus untuk memberi peringatan kepada mereka, tetapi mereka tetap tidak beriman.

Pada surah Fathir disebut bahwa Allah menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktunya yang tertentu, sedang pada surah Yaasiin disebutkan bahwa matahari beredar pada garis edarnya yang telah ditetapkan Allah, dan bulan mempunyai garis-garis edar yang telah ditentukan pula.

  • Fushilat [41]: 25

Hubungan Surah Fushilat dengan Surah Asy-Syura: Kedua surah ini sama-sama mengutarakan kebenaran Alquran, menolak kecaman dan celaan orang-orang kafir Makkah terhadapnya; bujukan terhadap Nabi Muhammad saw. agar jangan bersedih hati dan berputus asa, karena kecaman dan celaan itu sudah sewajarnya datang dari musuh-musuh agama dan hal itu telah dialami oleh rasul-rasul sebelumnya.

KRONOLOGI AYAT

  • Al-Baqarah [2]: 168
  • Waktu diturunkannya: Diperkirakan ayat ini diturunkan setelah Nabi saw. hijrah ke Madinah, sebab isi kandungan ayat ini menyeru kepada seluruh manusia (yang menjadi ciri bahwa perjuangan dakwah Islam sudah meluas), ini menandakan bahwa dakwah Islam sudah ke luar kota Mekkah, yakni Madinah dan ke beberapa daerah di jazirah Arab. Dan juga isi kandungan lainnya adalah ayat ini berbicara tentang fiqih dan penyempurnaan syariat Islam, di mana ini menjadi ciri-ciri umum ayat Madaniyah.
  • Tempat diturunkannya: Madinah.
  • Kandungannya: Isi kandungan ayat ini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ia berisi tentang seruan dari Allah swt. kepada seluruh umat manusia untuk memilih makanan dan minuman yang halal dan baik, yang bermanfaat bagi dirinya, serta larangan untuk mengikuti semua langkah-langkah Setan.[16]

 

  • Al-Baqarah [2]: 208
  • Waktu diturunkannya: Diperkirakan ayat ini diturunkan ketika Nabi saw. sudah tinggal di Madinah. Di saat beliau sedang bertemu dengan para sahabat yang merupakan muallaf dari bangsa Yahudi, mereka meminta agar tetap mengagungkan hari Sabtu dan mempelajari kitab Tauret.
  • Tempat diturunkannya: Madinah
  • Kandungannya: Perintah kepada seluruh orang yang sudah mengucapkan kata iman kepada Allah swt. dan rasul-Nya, agar benar-benar masuk ke dalam Islam secara sempurna (kaffah). Dengan meninggalkan sisa-sisa kebudayaan dan amaliah dari bekas agama mereka dahulu.

 

  • Al-Baqarah [2]: 275
  • Waktu diturunkannya: Surah Al-Baqarah turun di Madinah yang sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijriyah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji Wadda’ (Haji Nabi Muhammad Saw. yang terakhir).
  • Tempat diturunkannya: Madinah
  • Kandungannya: Dalam kenyataan yang terdapat di dalam kehidupan manusia di dunia ini, banyak pemakan riba kehidupannya benar-benar tidak tenang, selalu gelisah, tak ubahnya bagai orang yang kemasukan setan. Para mufasir berpendapat, bahwa ayat ini menggambarkan keadaan pemakan riba di dunia. Dari kelanjutan ayat dapat dipahami, bahwa keadaan pemakan riba itu sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, antara yang bermanfaat dengan yang madarat.

 

  • Al-An’am [6]: 112-113
  • Waktu diturunkannya: Diperkirakan ayat ini turun ketika Rasulullah sedang berada di Mekkah, kemudian didatangi oleh sekelompok orang kafir Mekkah beserta pemukanya.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Secara keseluruhan, ayat ini menceritakan dan memberitahukan kepada Nabi Muhammad saw. mengenai tantangan dakwah beliau. Bahwasanya apa yang akan dihadapi oleh Nabi Muhammad saw. adalah dengan melawan orang-orang kafir yang walau tanda-tanda kekuasaan Allah dan kerasulan Muhammad saw. telah nyata, mereka tidak akan beriman. Dan juga apa yang akan dihadapi oleh Nabi Muhammad saw. adalah musuh yang nyata dari golongan jin, setan dan iblis juga.

 

  • An-Nisa` [4]: 120
  • Waktu diturunkannya: Jika melihat munasabah ayat ini, diperkirakan ayat ini turun ketika ada kasus Thu’mah bin Ubairiq yang melakukan pencurian, kemudian ketika Rasulullah saw. telah menjatuhkan vonis potong tangan, ia pun lari ke Mekkah, dan di sana ia murtad. Di Mekkah pun ia merampok salah satu rumah penduduk Quraisy. Akhirnya ia ditangkap oleh suku Quraisy dan dibunuh. Kemudian turunlah rentetan ayat-ayat ini.
  • Tempat diturunkannya: Madinah
  • Kandungannya: Ayat ini berisi tentang betapa besarnya dosa syirik kepada Allah swt. dan betapa bahayanya tipu daya setan beserta siasatnya dalam menyesatkan umat manusia melalui beragam cara. Baik berupa merubah penampilan, merusak hewan-hewan ternak, bahkan menjanjikan dengan angan-angan yang sebenarnya kosong.

 

  • Al-Kahfi [18]: 50
  • Waktu diturunkannya: Diperkirakan ayat ini diturunkan di Mekkah. Sebab, pada ayat ini sangat menyangkut tentang pengokohan akidah yang merupakan ciri khas ayat-ayat Makkiyah.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Pada ayat ini mengandung beberapa pelajaran yang berhubungan tentang kisah nabi Adam as. dengan iblis.

 

  • Thaha [20]: 117
  • Waktu diturunkannya: Ayat ini turun sebelum Nabi saw. hijrah.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Pada ayat ini terdapat penetapan-penetapan yang berkaitan dengan ketauhidan. Selain itu ayat ini menceritakan kisah nabi dan umat terdahulu.

 

  • Al-A’raf [7]: 16 – 17
  • Waktu diturunkannya: Turun sebelum Nabi saw. hijrah.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Pada ayat ini yang mengemukakan tentang keadaan orang orang yang berada di atas Al-A’raf yaitu tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

 

  • Al-A’raf [7]: 21
  • Waktu diturunkannya: Turun sebelum Nabi saw. hijrah.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Pada ayat ini yang mengemukakan tentang keadaan orang orang yang berada di atas Al-A’raf yaitu tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.[17]

 

  • Al-A’raf [7]: 27
  • Waktu diturunkannya: Diturunkan sebelum turunnya surah Al-An’am.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Termasuk golongan surah “Assab’uth-thiwaal” (tujuh surah yang panjang). Ayat ini menyerukan kepada anak cucu Adam agar mereka jangan sampai lalai dan lengah, melupakan dan menyia-nyiakan dirinya, tidak menyucikan dan agar membentengi dirinya dengan takwa. Hendaknya mereka selalu mengingat Allah, karena kalau tidak, hatinya akan berkarat sebagaimana berkaratnya besi. Dengan demikian, mereka akan mempunyai kekuatan baja untuk menghadapi bujukan dan rayuan setan dan selamatlah mereka dari tipu dayanya.

 

  • An-Nahl [16]: 63
  • Waktu diturunkannya: Turun sebelum Nabi saw. hijrah.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Pada ayat ini terdapat penekanan pada dasar-dasar keimanan kepada Allah dengan diturunkannya lebah kepada nabi-nabi zaman dahulu untuk menambah kenikmatan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

  • Fathir [35]: 6
  • Waktu diturunkannya: Diturunkan setelah surah Al-Furqon dan merupakan surat akhir dari urutan surah-surah dalam Alquran yang dimulai dengan ‘Alhamdulillah’
  • Tempat diturunkannya: Makkah
  • Kandungannya: Pada ayat tersebut diterangkan bahwa setan itu adalah musuh abadi bagi manusia yang selalu membuat keraguan, membisikkan yang jahat dengan daya tariknya yang memesona, supaya manusia menuruti dan mengerjakannya. Oleh karena itu, hendaklah manusia mengganggap dan menjadikan setan itu musuhnya yang sangat berbahaya, yang tidak perlu dilayani dan diikuti sama sekali.

 

  • Fushilat [41]: 25
  • Waktu diturunkannya: Surah Fushilat diturunkan sesudah surah Al-Mu’min.
  • Tempat diturunkannya: Mekkah
  • Kandungannya: Allah menerangkan bahwa Dia telah menyediakan bagi orang kafir itu teman dan penolong berupa setan-setan dari golongan jin dan manusia. Mereka menganggap perbuatan-perbuatan duniawi yang membawa kepada kesesatan dan kekafiran itu baik, seperti memperturutkan hawa nafsu. Asal nama surah ini dijelaskan karena ada hubungannya dengan perkataan ‘Fushilat’ yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti ‘yang dijelaskan’. Maksudnya ayat-ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji dan ancaman, budi pekerti, kisah, dan sebagainya.

HIMPUNAN TAFSIR-TAFSIR AYAT

  • Al-Baqarah [2]: 168

Sayyid Qutb menjelaskan dalam kitabnya[18], ayat ini berisi tentang ke-Ilahi-an Allah swt. atas segala sesuatu termasuk di dalamnya tentang makanan yang halal. Setelah pada ayat-ayat sebelumnya menjelaskan tentang tanda-tanda tentang keesaan dan kekuasaan Allah swt., kemudian pada ayat ini dibahas mengenai mana saja makanan yang halal, yang haram, yang baik, yang buruk, yang membahayakan, yang menjijikan, dsb. Serta dibahas pula mengenai larangan mengikuti segala bentuk langkah iblis dan setan.

Ia menjelaskan bahwasanya Allah swt. telah membolehkan manusia untuk memakan segala yang tumbuh dan berada di atas muka bumi, tapi perlu digarisbawahi bahwa yang dibolehkan itu dikhususkan lagi yaitu hanya yang halal dan baik. Bukan yang haram. Sebab perbedaan antara keduanya sangatlah jelas. Juga bahwasanya Allah swt. melarang manusia agar tidak mengikuti segala bentuk langkah setan, terutama dalam ayat ini dalam hal memilih mana makanan yang layak dan halal masuk ke dalam perut, dan mana yang tidak.

Dalam hal ini pula, karena setan senantiasa selalu membisikkan kekejian, kejahatan dan keburukan ke dalam dada manusia, dan berusaha mencari teman sejati baginya di neraka. Berkaitan dengan makanan yang merupakan kebutuhan pokok manusia, maka di sini setan akan selalu berusaha membisikkan kepada manusia cara agar dapat memenuhi kebutuhan pokoknya tersebut, entah dari yang halal maupun yang haram, akan ia bisikan. Tapi setan sendiri tidak pernah menyuruh kepada kebaikan, justru sebaliknya. Setan juga akan membisikkan pada hati manusia untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu sesuai dengan kehendak dirinya, seenak dirinya, semau dirinya. Bahkan, setan bisa saja membisiki hati manusia untuk menggunakan kalam Allah untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu dengan memberinya interpretasi yang menyesatkan.

Maka, dari sini kita bisa melihat bahwa dalam hal memilih makanan yang baik dan haram pun sudah bisa menyangkut pada konteks keimanan atau akidah seseorang. Apakah ia mampu taat (beriman)?, atau justru sebaliknya? Hal ini tentu saja karena setan selalu membisikkan kejelekan, kejahatan dan keburukan pada diri manusia, serta berusaha untuk menyesatkannya dari jalan yang Allah ridai. Jika tidak demikian, maka mereka akan mengucapkan kata-kata kufur dan mendustakan atas nama Allah. Demikianlah kejinya setan.

Para mufasir lainnya seperti Wahbah Az-Zuhaili, Ibnu Katsir, Buya Hamka dan M. Hasbi Ash-Shiddieqy menjelaskan dalam tafsirannya, ayat ini merupakan peringatan dari Allah swt. kepada seluruh manusia agar senantiasa bisa memenuhi kebutuhan pokok makanannya hanya dari yang halal dan baik, serta bermanfaat bagi dirinya, dan bukan berasal dari makanan yang haram lagi membahayakan. Terkadang setan bisa mengambil celah di sini untuk menyesatkan manusia, yaitu dengan membisikkan kepadanya agar menghalalkan segala cara untuk bisa memenuhi kebutuhan pokoknya tersebut.

Pada ayat ini ditekankan yaitu yang halal dan baik, sebab makanan halal tapi bila tidak disajikan dengan cara yang baik, maka makanan tersebut akan rusak. Ibaratkan seperti daging sapi yang telah disembelih, tapi jika disajikan mentah-mentah tentu ini tidak baik. Maka tentu maksud yang baik di sini adalah makanan halal yang disajikan dengan cara yang baik dan bukan untuk sesuatu yang buruk.

Terdapat sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Mardawaihi yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., bahwa ketika ayat ini dibaca orang di hadapan Rasulullah saw., kemudian sahabat Sa’ad bin Abi Waqash berdiri, ia memohon kepada Rasulullah saw. agar menyampaikan keinginannya kepada Allah swt. agar setiap permohonan yang ia panjatkan kepada-Nya selalu dikabulkan. Kemudian Rasulullah saw. bersabda:

“يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، وَأَيُّمَا عَبْدٍ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ وَالرِّبَا فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ”

Wahai Sa’ad! Perbaikilah makanan engkau, niscaya engkau akan dijadikan Allah seorang yang makbul doanya. Demi Tuhan, yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya seorang laki-laki yang melemparkan suatu suapan yang haram ke dalam perutnya, maka tidaklah akan diterima amalnya selama empat puluh hari. Dan barangsiapa di antara hamba Allah yang bertumbuh dagingnya dari harta haram dan riba, maka api lebih baik baginya.[19]

Artinya, lebih baik memakan api ke dalam perut ketimbang memakan harta yang haram. Sebab siksa di bumi belum seberapa ketimbang siksa di akhirat. Makanan yang haram di sini ada dua macam: (1) Haram karena “zat” nya atau barangnya, dan (2) haram karena “sebab” nya. Yang haram karena zatnya, ia seperti babi, bangkai, darah, dsb. Mereka diharamkan untuk dimakan kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa dan mengancam nyawa. Sedangkan makanan yang haram karena sebabnya ialah seperti makanan yang didapat karena mencuri, riba, korupsi, penipuan, dsb.[20]

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, ini merupakan salah satu celah yang bisa digunakan setan untuk menjerumuskan manusia bersamanya ke neraka. Yaitu dengan membisikkan langkah-langkah sesatnya untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok manusia dengan cara yang sesat. Bisa berupa korupsi, mencuri, menipu, curang, atau bahkan melanggar perintah Allah yang melarang memakan makanan yang haram dengan menggunakan berbagai macam dalih agar nampak halal. [21]

Maka inilah pokok dari peringatan Allah swt. kepada manusia agar tidak mengikuti segala macam langkah-langkah setan. Langkah-langkah setan ini bisa berupa hal-hal yang menyalahi Alquran, mengerjakan maksiat, sumpah-sumpah yang diucapkan ketika sedang emosi, bernazar untuk mengharamkan diri sendiri dari memakan apa yang telah dihalalkan oleh Allah swt., bernazar dengan hal yang hampir mustahil dilakukan, seperti akan haji ke Mekkah dengan merangkak jika berhasil mendapatkan sesuatu, dsb. Ini adalah sekian dari berbagai macam langkah setan untuk menyesatkan manusia.

Mengenai pengertian (halaalan thayyiban) di sini, Imam At-Thabari menjelaskan bahwasanya makanan itu halal secara mutlak, suci, tidak najis dan tidak haram. Sedangkan menurut Imam Al-Qurthubi, ia mengutip pendapat imam Malik, bahwa maksud (thayyiban) ini hanyalah penekanan pada kata halal. Sedangkan imam Asy-Syafii menjelaskan bahwa maksud (thayyiban) ini adalah yang baik dan sedap, sehingga faedah penghalalannya juga jadi luas. Jadi hal ini juga berarti tidak boleh memakan makanan yang kotor dan menjijikan.

Adapun maksud dari (khuthuwaatisy-syaithaan) para ahli tafsir ada yang memberi arti bahwa ini adalah langkah-langkah setan, ada juga yang mengartikan bahwa ini adalah dosa-dosa setan, dan ada juga yang mengartikan bahwa ini adalah ketaatan pada setan. Imam Al-Qurthubi menarik kesimpulan bahwa makna lafaz pada ayat ini adalah umum. Jadi setiap apa yang dilakukan setan, baik itu langkah-langkahnya, maupun dosa-dosanya, kita haram untuk mengikutinya ataupun menaatinya. Adapun imam At-Thabari mengutip pendapat Abu Ja’far, bahwa seluruh penakwilan pada makna (khuthuwaatisy-syaithaan) ini berdekatan maknanya, sehingga menghasilkan pengertian bahwa kita dilarang mengikuti segala hal yang dilakukan oleh setan. Walau makna aslinya adalah langkah-langkah setan, tapi ini juga berarti bahwa kita haram mengikuti langkah dan cara-cara yang dilakukan setan.[22]

  • Al-Baqarah [2]: 208

Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan dalam tafsirnya, bahwasanya pada ayat ini bila kita melihat pada sebab turunnya ayat ini, maka kita bisa menafsirkan bahwasanya ayat ini ditujukkan pada orang yang baru masuk Islam, namun berat atau enggan meninggalkan kebiasaan lamanya sebelum menerima Islam. Serupa seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebab turunnya ayat ini, bahwa saat itu ada beberapa orang Yahudi yang baru masuk Islam, kemudian meminta kepada Rasulullah saw. agar membiarkan mereka tetap mengagungkan hari Sabtu dan mengamalkan isi Tauret setiap malamnya, kemudian turunlah ayat ini sebagai himbauan dan peringatan kepada mereka agar menerima Islam secara total. Baik dalam hal akidah, ibadah, maupun furu’, dan menerima syariat Islam secara keseluruhan tanpa memilih-milih ibadah antara satu dan lainnya, seperti hanya mengerjakan salat, tapi enggan zakat, dsb.

Kemudian penafsiran berikutnya adalah berupa seruan kepada seluruh umat muslim agar tidak saling berpecah-belah yaitu dengan bersatu di bawah naungan Islam. sebagaimana firman Allah swt. pada surat Ali-Imran ayat 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah berpecah belah…” Kemudian terdapat juga perintah dari Allah swt. untuk menghindari pertentangan dan perselisihan antar sesama umat muslim, pada surat Al-Anfal ayat 46: “…dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah…” Kemudian Nabi saw. bersabda ketika haji Wada’: “Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku kelak, di mana kalian saling berbunuhan.”

Sebaliknya, setan justru akan selalu membuat umat muslim agar berpecah belah, membuat mereka membenci satu sama lain, kemudian membuat mereka saling memerangi satu sama lain. Inilah hal yang sangat diinginkan setan dari umat muslim. Maka haram bagi kita untuk mengikuti segala tindak tanduk yang dilakukan setan sedikit pun. Sebab sudah jelas bahwa setan adalah musuh besar bagi seluruh manusia, yang sejak awal pun sudah menyatakan janjinya kepada Allah swt. akan selalu menyesatkan seluruh keturunan nabi Adam as. Karena akibat kemunculan dirinya lah yang mengakibatkan setan diusir dari surga dan mendapat laknat akan menjadi penghuni neraka.[23]

Buya Hamka juga sama menjelaskan dalam tafsirnya, ia menambahkan bahwa pada ayat ini terdapat dua kalimat kunci, yakni as-Silmi dan Kaafatan. As-Silmi berarti menyerah diri dengan tulus dan ikhlas. Dan menurut Asy-Syaukani, ini juga sama dengan al-Musalamah, yang artinya suasana perdamaian di antara dua belah pihak yang sedang berseteru. Maka, bila demikian, penafsirannya adalah siapa saja di antara orang-orang yang sebenarnya menyimpan rasa iman dalam hatinya, baik itu munafik, atau bahkan ahli kitab, yang selalu mereka tentang dan membuat Allah murka, maka marilah kita kembali pada Allah dan bersatu dalam naungan Islam, agar Allah mengampuni mereka.

Kemudian untuk kalimat Kaafatan, bila posisi kalimat ini sebagai Haal (Keterangan) bagi kalimat “Wahai orang-orang yang beriman!…” maka penafsirannya adalah siapa saja di antara orang-orang kafir, musyrik maupun ahli kitab yang telah masuk Islam dahulu itu, agar bersatu padu dalam Islam. Akan tetapi bila posisi kalimat ini sebagai Haal dari kalimat as-Silmi, maka ini artinya adalah seruan bagi seluruh umat Islam yang telah mengaku beriman kepada Allah swt., agar masuk Islam secara keseluruhan, mengakui seluruh akidahnya, menerima seluruh syariatnya, dan menjalankan semua ibadahnya, dsb.

Maka bila kita ingin tahu mana yang benar, kita bisa cari tahu dengan melihat sebab turunnya ayat ini bagaimana. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka penafsiran yang tepat adalah, posisi Kaafatan ini sebagai Haal dari as-Silmi.[24]

Demikian, bila penafsirannya adalah seperti ini, maka ketika kita sudah mengaku beriman kepada Allah swt., dan merasa diri sebagai muslim, maka kita harus meninggalkan seluruh adat kebiasaan pada agama sebelum kita (bila kita seorang yang muallaf). Misal, di Indonesia sebelum datangnya Islam ada tradisi untuk menghapus dosa pada orang tua, yaitu dengan mencuci kaki orang tua dan menciumnya. Kemudian air bekas cucian kaki tersebut kita minum. Bila kita perhatikan sejarah tradisi ini, ini bukanlah ajaran yang dibawa Islam, melainkan sisa kebudayaan agama sebelum Islam yang datang ke Indonesia. Ini adalah kebudayaan sisa agama Aria-India. Sebagaimana pernah dituliskan oleh A. D. El-Marzdedeq dalam bukunya “Parasit Aqidah”, bahwa tradisi ini terdapat kitab Rampitar I: 142-143: “Wahai keturunan Manu, tiada terampuni dosamu, kecuali dengan minum bekas cucian kaki ayah bundamu itu.”[25] Setelah kita mengetahui bahwa salah satu tradisi ini adalah bukan dari Islam, maka sudah sepatutnya kita meninggalkan tradisi-tradisi yang seperti ini, dan menerima Islam secara keseluruhan. Adapun pendapat penulis, bila suatu tradisi tidak bertentangan dengan akidah, ibadah dan syariat Islam, maka tidak tradisi ini tidak perlu dipermasalahkan. Tapi, penulis sendiri lebih baik meninggalkan tradisi dari kebudayaan yang jelas-jelas bukan berasal dari Islam, karena sedikitnya pasti mengandung dosa syirik. Wallahu a’lam.

  • Al-Baqarah [2]: 275

Dalam Tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa: Sesudah sampai 13 ayat banyaknya Tuhan menunjukkan jiwa yang subur, sudi memberi karena gemblengan iman, yang dibentuk oleh ajaran lslam, maka Tuhan membuka kemlali kejatatan hidup zaman iahiliyah. Islam menanamkan kasih-sayang di antara yang kaya dengan yang miskin, dengan menyuburkan rasa sedekah dan pengurbanan, sedangkan iahiliyah ialah memberi kesempitan bagi si kaya menghisap darah si melarat untuk kepentingan diri sendiri. Yang terutama sekali ialah riba.

Apakah riba jahiliyah itu? Dimisalkan si A sangat terdesak, entah hendak berniaga, entah hendak bercocok-tanam, hartanya tidak ada, lalu dia pergi meminjam modal kepada yang mampu. Misalnya Rp. 1.000. berjanji dibayar dalam setahun. Setelah genap setahun, karena uang pembayar itu belum cukup, maka datanglah yang berhutang itu kepada yang berpiutang menerangkan bahwa dia belum sanggup membayar sekarang. Maka, yang punya uang berkata, bolehlah engkau bayar tahun depan saja asal lipat dua. Kalau belum juga terbayar tahun itu, sehingga minta tangguh setahun lagi, boleh juga, asal hutang yang dua ribu tadi menjadi empat ribu. Akibatnya bukanlah membantu, bukan memberi waktu, melainkan mencekik leher si melarat tadi, sehigga walaupun bagaimana dia mengangsur hutang, namun sisa yang tinggal bertambah membuat dia melarat. Kadang-kadang harta bendanya yang ada habis licin tandas, bahkan sampai matinya menjadi hutang pula kepada keluarganya yang ditinggal. Inilah gambar dari riba jahiliyah itu, yang dikenal juga namanya dengan “Riba Nasi’ah”, atau riba pemberi tempo. Yaitu bukan melapangi si berhutang, tetapi memperkaya bagi yang piutang dan membuat melarat yang dipiutangi.

“Orang-orang yang memakan riba itu tidaklah akan berdiri, melainkan sebagai berdirinya orang yang diharu-biru oleh setan dengan tamparan.” (pangkal ayat 275).

Kalimat dalam ayat ini makan riba telah pindah menjadi kata umum. Sebab meskipun riba bukan semata-mata buat dimakan, bahkan untuk membangun kekayaan yang lain-lain, namun asal usaha manusia pada mulanya ialah ‘cari makan’. Maka di dalam ayat ini diperlihatkan pribadi orang yang hidupnya dari makan riba itu. Hidupnya susah selalu, walaupun bunga uangnya dari riba telah berjuta-juta. Dia tidak merasakan kenikmatan di dalam jiwa lantaran tempat berdirinya ialah menghisap jiwa orang lain. Dia diumpamakan dengan orang yang selalu kacau, gelisah, dan resah, juga haru-biru karena ditampar setan. Selalu merasa takut kalau-kalau uangnya tidak dibayar orang. Dan kalau tidak terbayar oleh yang berhutang sehingga harta benda orang itu perlu dirampas, maka budinya bertambah kasar. Perasaan halus yang ada di hati sanubarinya perlu ditekannya, supaya keuntungan masuk. Ada pemakan riba yang usianya sudah 60 tahun sampai hati menyesakkan piutangnya kepada orang yang berhutang, walaupun orang itu sedang dalam keadaan sakit keras. Bahkan kalau orang itu langsung mati, dan dia mempunyai anak gadis usia 16 tahun, si tukang riba yang berusia 60 tahun itu, smapai hati saja melepaskan hutang itu asal dibayar dengan anak gadianya, untuk menjadi bini mudanya.

Mengapa sampai demikian dia? sampai sebagai orang dirasuk setan? sehingga wajahnyapun kelihatan bengis, matanya melotot penuh benci? tetapi mulutnya manis membujuk-bujuk orang supaya suka berhutang kepadanya?. Sebelum orang itu jatuh ke dalam perangkap yang payah melepaskan diri? “Menjadi demikian, karena sesungguhnya mereka berkata: Tidak lain perdagangan itu hanyalah seperti riba juga” Artinya karena dia hendak membela pendiriannya menternakkan uang, dia mengatakan bahwa pekerjaan orang berniaga itupun serupa dengan pekerjaannya makan riba, yaitu sama-sama mencari keuntungan atau sama-sama cari makan. Keadannya jauh berbeda.

Riba adalah salah satu kejahatan jahiliyah yang amat hina. Riba tidak sedikit juga sesuai dengan kehidupan orang beriman. Kalau di zaman yang sudah-sudah ada yang melakukan itu, maka sekarang karena sudah menjdai Muslim semua, hentikanlah hidup yang hina itu, bahkan diampuni oleh Allah. Kalau misalnya dari harta keuntungan riba mereka mendirikan rumah, tidak usah rumah itu dibongkar. Mulai sekarang hentikan sama sekali. Tetapi kalau ada yang kembali kepada hidup makan riba itu, samalah dengan setelah Islam kembali menyembah berhala, sama kekalnya dalam neraka.

  • Al-An’am [6]: 112-113

Sayyid Qutub menjelaskan dalam tafsirnya; ayat ini menginformasikan pada kita bahwa bagi setiap nabi dan rasul pasti ada musuhnya dari kalangan jin dan manusia. Pada ayat ini diperjelas bahwa musuh yang dihadapi nabi adalah setan. Mengapa setan? Bukankah dari kalangan jin dan manusia?

Begini jawabannya, setan merupakan nama bagi sebuah sifat yang suka membangkang, sombong, suka membisikkan kejahatan dan durhaka. Maka, siapapun yang suka membangkang, sombong, suka membisikkan kejahatan dan durhaka, jika ia adalah manusia, maka dia dinamakan setan manusia. Jika ia adalah jin, maka ia dinamakan jin setan atau iblis. Dari bangsa jin pun tidak semuanya adalah iblis, tapi dari bangsa jin juga ada yang beriman dan taat kepada Allah swt. Maka, ini tidak kita katakan sebagai musuh yang nyata juga.

Musuh manusia atau setan manusia bagi para nabi dan rasul bisa dilihat dan dihadapi dengan mata kita sendiri, mereka ialah orang-orang kafir yang menolak hidayah atau kebenaran yang datang dari Allah swt. melalui nabi dan rasulnya, tapi mereka enggan untuk mengamini dan menerimanya. Bahkan, dari bibir-bibir mereka, mereka saling mengatakan pada manusia lainnya melalui perkataan-perkataan yang manis untuk menghasud dan menolak ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul tersebut. Hal ini sama persis seperti kelakuan setan yang senantiasa membisikkan kejahatan pada hati manusia, dan menjauhkannya dari cahaya Allah swt.

Adapun musuh bagi para nabi dan rasul dari kalangan jin setan atau iblis, tentu ini lebih sulit dihadapi oleh nabi. Karena, iblis ini adalah termasuk ke dalam makhluk Allah yang gaib, tidak kasat mata. Mereka dapat melihat kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Mereka bisa membisikkan kejahatan pada hati kita, sedang kita tidak menyadari bahwa itu adalah bisikan salah satu makhluk Allah yang nyata. Tentu, meski nabi diberi izin oleh Allah mampu mengetahui keberadaan jin dan iblis atas wahyu-Nya, namun, tetap saja karena iblis ini jumlahnya banyak, maka yang menggoda manusia pun banyak. Bukan hanya yang ada di depan nabi dan rasul, tapi yang jauh di hadapan maupun di belakangnya pun tak luput dari godaannya.

Allah swt. sesungguhnya Maha Kuasa atas makhluk-makhluk-Nya jika ia mengehendaki agar jin dan para iblis ini taat kepada-Nya. Tidak membangkang, tidak sombong, tidak suka membisikkan kejahatan, tidak mendurhakai-Nya. Sebagaimana yang terdapat pada penghujung ayat 112: “Jika Tuhanmu mengehendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya.” Tapi Allah mengehendaki atas para setan ini untuk melakukan aniaya terhadap hamba-hamba-Nya untuk menyaring di antara mereka siapa yang mampu beriman, takwa, sabar, mampu menjaga hatinya agar tetap bersih serta tahan atas godaan para setan ini. Tentu, maksud dari tujuan ini adalah karena Allah ingin mengetahui siapa saja dari hamba-Nya yang benar-benar beriman kepada-Nya, serta tidak mengikuti setan sebagai haluan hidupnya.

Pada ayat 113, ini mempunyai arti bahwa agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat ini, mendengarkan tipuan dan sugesti yang dibisikkan oleh setan. Sebab, sudah pasti orang yang tidak mempercayai adanya akhirat hanya akan mencari hal-hal keduniaan saja. Mereka melihat para setan ini menganiaya para nabi, dan mereka senang terhadap hal itu. Sebab, apa yang disampaikan oleh para nabi tidak sejalan dengan apa yang mereka yakini. Sehingga, mereka pun saling mengatakan kepada sesama manusia lainnya dengan perkataan-perkataan yang manis lagi merayu, agar tidak mengikuti ajaran yang dibawa para nabi tersebut.[26]

Wahbah Az-Zuhaili pun menjelaskan tidak jauh berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh Sayyid Qutub, ia menambahkan bahwasanya ayat ini merupakan hiburan bagi Nabi Muhammad saw. bahwa sesungguhnya yang menderita akibat permusuhan dengan setan ini bukan hanya Nabi saw. saja, melainkan para nabi sebelumnya pun tak luput dari permusuhan dengan setan. Hal ini pun disebutkan lagi dalam ayat 34 berikutnya: “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” dan juga dalam surat Al-Furqan ayat 31: “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.”

Waraqah bin Naufal pernah berkata kepada Rasulullah saw.: “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kau bawa, melainkan mendapatkan perlawanan.”[27]

Dan memang, permusuhan dengan setan-setan ini merupakan sunatullah yang pasti terjadi. Sejak awal berlangsungnya kehidupan manusia pun, setan sudah dengan jelas menyatakan permusuhannya kepada manusia dan berjanji akan menyesatkannya. Beragam cara selalu diupayakan oleh setan agar berhasil menggiring manusia menuju neraka. Mereka merasuki diri manusia agar menjadi setan manusia, yang selalu membisikkan kejahatan dan mengucapkan perkataan-perkataan yang indah nan merayu manusia lainnya agar membenci kepada kebenaran yang notabenenya untuk akhirat dan mencintai keduniaan. Mereka selalu membisikkan manusia agar tidak mau menerima hidayah, dan membuat mereka senang dalam mengerjakan kemaksiatan.[28]

Adapun orang-orang yang beriman tidak akan dengan mudah terpedaya oleh omongan-omongan setan yang menipu ini. Mereka kebal dan mereka yakin terhadap apa yang telah dijanjikan oleh Allah swt. bila mereka mengimani-Nya.

Dan para nabi pun cukup bersabar dan terus berjuang mendakwahkan risalahnya, jangan gentar dengan perlawanan setan terhadap dakwahnya. Tugas para nabi hanyalah menyampaikan risalahnya, masalah dia menerima atau mendustakannya, itu milik dirinya. Dan masalah dia berdosa atau tidaknya, itu urusan Allah swt.[29]

  • An-Nisa` [4]: 120

Para mufasir hampir semuanya se-tema antara satu tafsir dengan tafsir yang lainnya. Yakni mereka menjelaskan bahwasanya pada surat An-Nisa ayat 116 sampai 120 ini sangat berkaitan erat untuk memahami maksudnya. Dimulai dari ayat 116 yang menjelaskan tentang betapa Allah bencinya terhadap dosa syirik kepada-Nya, sehingga Allah swt. sendiri tidak mau mengampuninya. Berbanding terbalik dengan seorang pendosa tapi dia tidak memiliki kesyirikan dalam dirinya sedikitpun, meski ia adalah seorang yang amat banyak dosanya, tapi ampunan Allah akan selalu terbuka kepadanya, selama masih diizinkan untuk hidup di dunia.

Kemudian ayat-ayat berikutnya menjelaskan tentang sikap dan tujuan utama dari setan, serta tindak-tanduk dan sepak terjangnya dalam menyesatkan keturunan nabi Adam as. Dimulai dari setan yang mulai membisiki manusia untuk menyembah para malaikat di samping menyembah Allah. Setan mengatakan bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuannya Allah swt., dan tujuan menyembah para malaikat menurut setan adalah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah swt.

Selanjutnya, setelah apa yang dilakukan oleh setan itu dikatakan berhasil, ia pun mulai membisiki manusia untuk membuat wujud fisik dari sesembahannya tersebut. Hal ini seperti yang bisa kita lihat dari sejarah Arab jahiliah dulu, di mana setiap malaikat (yang dikatakan sebagai anak perempuan Allah) ini dibuatkan masing-masing patungnya. Kemudian, oleh mereka diberi nama seperti anak perempuan, Latta, Uzza dan Manaat. Lama kelamaan, mereka mulai melupakan tujuan dari pembuatan patung tersebut untuk menyembah malaikat dan Allah, hingga akhirnya mereka hanya menyembah patung-patung tersebut secara utuh. Bahkan menyembah zat-zat patung tersebut, misal patung-patung yang terbuat dari batu-batu A, B, dan C, maka akan ada perlakuan khusus.

Di sini secara tidak langsung, apa yang mereka lakukan itu tentu bukannya menyembah Allah swt., melainkan menyembah setan yang durhaka lagi tersesat. Sebab, dengan taat terhadap apa yang dibisiki setan kepada mereka, maka bisa dikatakan mereka sudah menyembah kepada setan dengan menaati segala bisikan kejinya. Maka dari itu, dalam teks ayat ini pun digunakan lafaz umum. Ini dimaksudkan bahwa memang segala bentuk kesyirikan kepada Allah swt. itu adalah bentuk perbuatan setan yang terkutuk.

Kemudian, yang dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya ialah bahwa setan itu senantiasa akan menyesatkan manusia dengan upaya-upaya mereka seperti membangkitkan angan-angan manusia, memotong telinga hewan-hewan ternak mereka, dan mengubah bentuk ciptaan Allah swt. Setan kemudian membangkitkan angan-angan kosong pada manusia dengan berupa janji bahwa mereka kan mendapatkan kenikmatan dan kemenangan di dunia maupun akhirat. Kemudian, maksud memotong telinga hewan-hewan ternak mereka adalah memberi tanda pada hewan-hewan ternak mereka agar dikenali mana hewan yang hendak disembahkan pada berhala-berhala dan mana yang bukan. Hal ini sama seperti penafsiran pada ayat sebelumnya, yakni pada surat Al-Baqarah ayat 168, di mana orang-orang Arab jahiliah itu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah swt., yakni tentang Saibah, Bahirah, al-Haam dan Washiilah. Lalu maksud dari mengubah bentuk ciptaan Allah yakni bahwa setan itu membisiki manusia untuk mempercantik diri, atau memperindah penampilan, seperti mentato, mengukir gigi, mencukur bulu di wajah (alis), dsb. Hal ini tentu telah diharamkan oleh Islam dan telah dilaknat oleh Allah swt. terhadap perbuatan demikian.[30]

Maka siapa saja yang menjadikan setan sebagai teman dan pemimpinnya, maka sungguh ia telah menjadi orang yang sungguh-sungguh merugi. Sebab, setan akan selalu menjanjikan angan-angan kosong, seperti akan mendapatkan kekayaan jika mereka berjudi, membuat mereka merasa orang yang paling beruntung di dunia maupun di akhirat. Dan mereka pun menakut-nakuti manusia bahwa mereka akan menjadi miskin bila membayar zakat dan menginfakkan hartanya, padahal sejatinya semua ini adalah dusta.

Katakan juga, semua yang dilakukan setan, mulai dari membuat patung malaikat dan menyembahnya, yang semula dikatakan agar mereka mendapat berkah dan keamanan di dunia. Serta janji setan jika tidak memakan atau menunggangi hewan-hewan seperti Saibah, Bahirah, al-Haam dan Washilah, maka akan mendapat keberkahan. Serta janji setan yang mengatakan bahwa dengan merias diri supaya nampak indah, maka akan memberi kenikmatan pada manusia, ini semua sejatinya adalah dusta besar setan untuk menyesatkan seluruh keturunan Adam as. Demikianlah maksud dari janji-janji setan yang disebutkan dalam ayat ini.[31] Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah dalam Alquran surat Ibrahim ayat 22 pada munasabah di atas.

  • Al-Kahfi [18]: 50

Sayyid Qutub menjelaskan dalam tafsirnya: “Ayat ini merupakan isyarat dari Allah swt. kepada manusia, atas peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Hal ini yang memunculkan keanehan pada anak-cucu Adam as. yang menjadikan iblis dan anak-cucunya sebagai pemimpin dan pelindung mereka. Padahal sejak dahulu kala iblis sudah menunjukkan permusuhan yang abadi dengan manusia.

Para pemimpin-pemimpin iblis ini berhasil menjadikan manusia sebagai budaknya, dengan selalu membisikkan dorongan kejahatan berupa nafsu dan agar menjauhi ketaatan.

Di sini juga Allah merasa heran kepada hamba-Nya yang menjadikan para iblis menjadi pemimpin mereka, padahal, iblis dan keturunannya tidak mengetahui segala rahasia alam semesta dan rahasia-rahasia Allah swt. Allah swt. Maha Kuasa menciptakan alam semesta ini beserta beragam rahasia-Nya tanpa harus melibatkan orang lain (termasuk manusia, malaikat dan jin). Sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya, ayat 51:

۞مَّآ أَشۡهَدتُّهُمۡ خَلۡقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَا خَلۡقَ أَنفُسِهِمۡ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ ٱلۡمُضِلِّينَ عَضُدٗا  ٥١

Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong. (QS. Al-Kahfi [18]: 51)

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa tiada satu makhluk pun termasuk iblis dan keturunannya yang mengetahui rahasia-rahasia Allah swt. Maka, apakah kita pantas menganggap mereka sebagai pemimpin yang bisa menolong kita semuanya?

Tapi, bagaimanapun juga setan adalah penipu yang ulung. Mereka selalu bisa mempengaruhi dan memperdaya manusia agar mengikuti langkah-langkah mereka. Maka dari itu, kita sebagai manusia yang telah mengetahui kebenaran ini, sepatutnya meningkatkan keimanan kita dan mengokohkan hati kita bahwa sang Maha Kuasa, Maha Mengetahui segalanya, Maha Pelindung dan Penolong adalah hanya Allah swt. bukanlah setan yang sesat lagi menyesatkan.[32]

Para mufasir lainnya juga menjelaskan demikian, Wahbah Az-Zuhaili menambahkan dalam tafsirnya tentang asal mula ketiga makhluk Allah swt. ini (malaikat, jin dan manusia) dan juga ia menambahkan tafsir mufradatnya.

Ayat ini mengingatkan kita kembali tentang kisah di masa lalu, dan sebagaimana yang telah dijelaskan berulang kali pada ayat-ayat sebelumnya seperti surat Al-Baqarah ayat 34, Al-Hijr ayat 28 dan 29, dan juga pada surat ini. Pada ayat ini dijelaskan tentang siapa itu iblis, di mana pada ayat-ayat lainnya tidak dijelaskan siapa itu iblis. Pada ayat ini dijelaskan bahwa iblis itu asalnya adalah dari kalangan jin (كان من الجن), kemudian karena ia mendurhakai perintah Allah swt. (ففسق عن أمر ربه), maka ia dinamakan iblis.

Iblis berani mendurhakai Allah swt. atas perintah Allah untuk bersujud kepada Adam as. karena ia merasa sombong pada dirinya, merasa berbangga diri bahwa ia diciptakan dari api, dan para malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan manusia dari tanah liat. Sebagaimana hadis nabi saw.:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ ”

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, iblis diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian.”[33]

Ia menganggap bahwa dirinya merasa lebih baik daripada nabi Adam as.

Buya Hamka menambahkan: “Orang yang zhalim adalah orang yang salah perhitungan, yang menyesatkan diri sendiri; Mereka menukar Allah dengan Iblis! Bukan Iblis saja, bahkan sampai kepada anak-cucu Iblis, mereka puja, mereka sembah, mereka jadikan mata pencarian dan sumber hidup. [34]

  • Thaha [20]: 117

Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya: Maka kami berkata “hai Adam, sesungguh:nya (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maha sekali-kali janganlch sampal ia mengeluarkan kamu berdua.” Ini adalah larangan. Pengertiannya: Jangan kamu berdua menerima darinya sehingga itu akan menjadi sebab keluanya kamu berdua “minnal jannati fatasyqaa” Dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi durhaka. Yakni kamu dan istrimu. Karena alasan bagi keduanya adalah sana. Di sini Allah tidak menyebutkan dengan redaksi: fatasyqiyya (yang menyebabkan kamu berdua celaka), karena pengertian cukup  jelas, dan Adam AS adalah mukhathabnya dan dialah yang dimaksud. Lain dari itu karena Adam adalah yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan istrinya, maka penyebutan ` celaka’ dikhususkan baginya.”

Dikhususkannya penyebutan `celaka/derita’ bagi Adam dan tidak menggunakan redaksi fatasyqiyyani (kamu berdua celaka/menderita), artinya Allah mengajarkan kepada kita bahwa nafkah istri adalah tanggungan suami. Sejak saat itu berlaku ketentuan bahwa nafkah para istri menjadi tanggungan para suami. Karena nafkah

Hawa merupakan tanggungan Adam, maka demikian juga nafkah para istri merupakan tanggungan para istri berdasarkan hak suami-istri. Dengan ayat ini juga Allah mengajarkan kepada kita, bahwa yang diwajibkan atas suami bagi istrinya ada empat, yaitu: makanan, minunan, pakaian dan tempat tinggal. Jika seorang suami telah memberikan keempat hal ini, maka berarti ia telah mengeluarkan nafkah untuk istrinya, jika ia memberi lebih dari itu, maka ia pun mendapat pahala. Adapun yang empat hal ini, harus dipenuhi, karena dengan begitu kehidupan rumahtangga akan berjalan baik.

Al-Hasan mengatakan, Yang dimaksud dengan firman-Nya: “fatasyqaa” (yang menyebabkan kamu menjadi celaka) adalah di dunia  karena tidak tampak pada manusia kecuali nasib.”[35]

Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan dalam tafsirnya: Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT., Kami katakan kepada Adam setelah iblis tidak mau sujud kepadanya, “Wahai Adam, sesungguhnya iblis adalah musuhmu dan musuh istrimu, sehingga dia tidak mau sujud kepadamu dan membangkang terhadap-Ku, maka jangan kalian patuh kepadanya. fangan sampai dia menjadi penyebab dikeluarkannya kalian dari surga, yang akan membuatmu kelelahan menjalani hidup di muka bumi untuk mencari sarana-sarana penghidupan, seperti bercocok tanam. Sedangkan, kamu di sini, di dalam surga, hidup dengan penuh kelapangan dan kenikmatan, tanpa ada beban dan kesulitan.[36]

  • Al-A’raf [7]: 16-17

Imam Asy-Syaukani menjelaskan dalam tafsirnya: Redaksi kalimat: قال فبما اغويتن (Iblis menjawab, “karena Engkau telah menghukum saya tersesat”) adalah redaksi kalimat permulaan seperti redaksi yang sebelumnya. Redaksi ini sebagai jawaban htas pertanyaan yang diperkirakan. Ba’ pada فبما adalah sababiyah (menunjukkan sebab), dan fa’ –nya berfungsi untuk mengurutkan dengan redaksi yang sebelumnya.

Ada juga mengatakan, bahwa ba’ di sini adalah partikel sumpah, seperti firman-Nya: فبعزتك لاغوينهم اجمعين  (demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya) (QS. Shaad[38]: 82), sehingga: fa bi ighwaa ‘ika iyyaya (demi vonis-Mu yang menyatakan saya sesat). لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيم (saya benar-benar akan [menghalang-halangi] mereka dari jalan Engkau yang lurus). Al- Ighwaa’ artinya menjatuhkan ke dalam kesesatan.

Ada juga mengatakan, bahwa ba’ disini bermakna lam. Ada juga yang mengatakan bermakna مع. Maknanya: fa ma’a ighwaa ‘ika iyyaya (maka bersamaan dengan vonis-Mu bahwa saya sesat). Ada juga yang mengatakan, bahwa ما pada kalimat : فبما اغويتني adalah partikel tanya. Maknanya: fa bi ayyi syai’in aghwaitani (maka karena apakah Engkau memvonis saya sesat).

Pendapat pertama lebih tepat. Yang dimaksud dengan voni sesat ini, yaitu yang dijadikan oleh iblis sebagai alasan untuk apa akan dilakukannya terhadap para hamba, adalah karena ia menolak srrjud kepada Adam, dan itu berdasarkan vonis sesat terhadapnya dari Allah, sehingga ia memilihi kesesatan daripada petunjuk.

Ada juga yang berpendapat, bahwa yang dimaksud itu adalah laknat yang Allah jatuhkan kepadanya. Yakni: Karena Engkau telah melaknat saya dengan kesesatan sehingga membinasakan saya, maka saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka. Ini seperti pada ayat ; فسوف يلقون غيا (Maka mereka kelak akan menemui kesesatan) (Qs. Maryam [19]: 59), yakni: halaakan (kebinasaan).

Ibnu Al A’rabi mengatakan, ‘iDikatakan: ghawaa ar’raiul yaghwii – ghayyan apabila laki-laki itu perkaranya merusak dirinya, atau ia sendiri merusak dirinya. Contohnya firman Allah Ta’ala: wa’ashaa aadamu rabbahu, faghowaa ( dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia) (Qs. Thaaha2}l:121), yakni: rusaklah kehidupannya di surga

            La aqq’udanna lahum (saya benar-benar akan [menghalanghalangi mereka), yakni: saya pasti akan bersungguh-sungguuh dalam menyesatkan mereka sehingga menjadi rusak karena sebab saya, sebagaimana aku telah rusak sebab saya menolak sujud kepada bapak mereka.

            Ash-shiraath al-mustaqiim (jalan yang lurus) adalah jalan yang mengantarkan kepada surga. Manshub-nya ini karena sebagai zharf. Yakni: fii shiraathika al mustaqiim (pada jalan-Mu yang lurus). Sebagaimana yang dikatakan Sibawaih: dibawah zaid azh-zhahr wa al bathn (zaid memukul punggung dan perut).

Lam pada kalimat: la aq’udanna (saya benar-benar akan [menghalang-halangi] adalah partikel sumpah dan ba’ pada kalimat bimaa aghwaitanii (karena Engkau telah menghukum saya tersesat) terkaitan dengan fi’l sumpah yang di buang, yakni: fa bi aghwaitanii uqsimu la aq’udanna (karena Engkau menghukum saya tersesat, maka saya bersumpah, benar-benar saya akan menghalang-halangi.

Firman-Nya: ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ (kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka). Iblis menyebutkan keempat arah ini karena dari keempat arah itulah datangnya musuh kepada musuhnya, dan karena itulah iblis tidak menyebutkan arah atas dan bahwa Ta’diyah-nya fi’il ini (yakni: obyekisasi la aiyannahum) pada dua arah pertama dengan menggunakan kata bantu min dua arah lainnya dengan menggunakan kata bantu ‘an. Karena biasanya orang yeng datang dari arah depan dan belakang dilakukan dengan cara menghadap dengan seluruh tubuhnya, dan biasanya orang yang datang dari arah kanan dan kiri dilakukan dengan cara miring. Maka dengan demikian, dua obyek pertama sangat tepat karena menggunakan partikel permulaan [yakni min] dan untuk obyek lainnya juga sangat tepat karena menggunakan partikel tengah [yakni ,min]. Redaksi ini adalah perumpamaan tentang godaan setan yang diungkapan dengan datang secara hakiki.

Ada juga yang mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan: mim baina aidiihim (dari muka) adalah dari dunia mereka wa min khalfihim (dan dari belakang mereka) adalah dari akhirat mereka, wa ‘an aimaanihim (dari kanan) adalah dari arah kebaikan mereka, dan wa’an syamaa ilihim (dan dari kiri mereka) adalah dari arah keburukan mereka. Pendapat ini dinilai bagus oleh An-Nuhas[37]

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya: Allah SWT. memberitahukan, bahwa setelah Allah memberikan tangguh kepada iblis, الى يوم يبعثون Sampai pada waktu mereka dibangkitkan. 11 Dan Iblis benar-benar merasa yakin akan penangguhan tersebut, maka ia pun benarbenar melawan dan durhaka seraya berkata, فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. “maksudnya, sebagaimana Engkau telah menjadikanku tersesat.

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Sebagaimana Engkau telah menyesatkanku.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan: “Sebagaimana Engkau telah membinasakanku, maka aku pun akan menghadang hamba-hamba-Mu yang Engkau ciptakan dari keturunan Adam, di mana dengan sebab dia, Engkau menjauhkanku dari صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ “jalan-Mu yang lurus,” yaitu jalan kebenaran dan keselamatan. Dan aku juga akan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran dan keselamatan tersebut, supaya mereka tidak menyembah dan mengesakanMu, dikarenakan Engkau telah menyesatkanku.” Sebagian ahli ilmu Nahwu berpendapat, huruf ba’ di sini merupakan kata sumpah, seolah-olah ia mengatakan: “Karena engkau telah menyesatkanku, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi anak cucu Adam dari jalan-Mu yang lurus.” (Mengenai ash-Shirathul Mustaqiim), Ibnu Jarir mengatakan: “Yang benar adalah, bahwa ash-Shirathul Mustaqiim itu lebih umum dari itu semua.

Yang demikian itu didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, dari Sirah bin Abi al-Fakih, ia berkata, aku pemah mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya syaitan itu menghadang anak Adam di semua jalannya. Ia menghadang ketika akan masuk Islam, di mana ia berbisik: ‘Apakah engkau akan masuk Islam dan meninggalkan agamamu dan agama nene.k. moyangmu?’ Namun anak Adam itu tidak menghiraukannya dan tetap masuk !::;lam. Lalu (ia) menghadang ketika anak Adam akan hijrah, di mana iblis berbisik: ‘Apakah engkau akan berhijrah meninggalkan tanah airmu? Sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah itu seperti kuda lari yang tidak tahu ke mana akhimya. Maka anak Adam itu pun tetap tidak menggubrisnya dan tetap berhijrah. Selanjutnya, iblis menghadang anak Adam ketika hendak pergi berjihad, yaitu jihad memerangi hawa nafsu dan mengorbankan hana benda. Maka si iblis itu berkata: ‘Engkau akan berperang dan akan terbunuh, lalu isterimu dikawini orang lain dan kekayaanmu dibagi-bagi.’ Maka anak Adam itu menentangnya dan berjihad. Lebih lanjut Rasulullah SAW. bersabda: ‘Barangsiapa di antara mereka yang berbuat sepeni itu lalu mati, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam Surga. Jika ia terbunuh, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke Surga. Jika tenggelam, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke Surga. Atau jika ia dijatuhkan oleh tunggangannya, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke Surga.” (HR. Ahmad)

Dan firman Allah berikutnya, ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka.” Mengenai firman-Nya ini, ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka.”‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, maksudnya, iblis berkata: “Aku akan jadikan mereka ragu akan kehidupan akhirat mereka.” وَمِنْ خَلْفِهِمْ “Dan dari belakang mereka. “maksudnya, aku akan menjadikan mereka cinta kepada dunia mereka. وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ “Dan dari sebelah kanan mereka. “Maksudnya, aku akan menjadikan urusan agama samar-samar bagi mereka. وَعَن شَمَآئِلِهِمْۖ “dan dari sebelah kiri mereka “Dan akan aku jadikan mereka menjukai kemaksiatan.

Sedangkan Ibnu Jarir memilih berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah pencampuradukan antara jalan kebaikan dengan jalan keburukan. Maka iblis menghalangi mereka dari kebaikan dan menjadikan keburukan itu indah dalam pandangan mereka.

Mengenai firman Allah  ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْۖ  “Kemudian aku akan mendatangi niereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka.” Al-Hakam bin Abban mengatakan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Dalam ayat itu Allah tidak mengatakan, ‘Dari atas mereka,’ karena rahmat itu turon dari atas mereka.”

Dan mengenai firman-Nya, وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka beriyukur (taat),” ‘Ali bin Abi Thalhah me­ngataka n dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “(Bersyukur) maksudnya, mengesakanNya.”[38]

  • Al-A’raf [7]: 21

Imam Asy-Syaukani menjelaskan dalam tafsirnya: (Dan dia [setan] bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua”) Yakni: halafa lahumaa (bersumpah kepada keduanya). Polanya: aqsama qasaaman, yakni halafa (bersumpah). Contoh ungkapan dalam perkataan seorang penyair:

وقاسمهما بالله جهدا لانتما الذ من السلوى ما اذا نشورها

“Dan ia bersumpah dengan sungguh-sungguh kcpadanya dengan menyebut nama Allah: Sungguh kamu berdua lebih lezat daripada salwa yang dapat kami ambil dengan mudah.”

Walaupun pada asalnya bentuk kata mufaa’alah menunjukkan penyertaan, namun sering kali digunakan selain itu. Kami telah memaparkan ini di dalam surah Al Maaidah. Maksudnya di sini adalah iblis menunjukkan kesungguhan dalam mengemukakan sumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa). Ada juga yang mengatakan, bahwa keduanya besumpah kepada iblis untuk menerima sebagaimana iblis bersumpah kepada keduanya untuk menasihati.[39]

Ibnu Katsir menjelaskan dalma tafsirnya: “Dan firman-Nya lebih lanjut,  وقا سمهما”Dan ia (syaitan) bersumpah kepada keduanya.” Maksudnya, syaitan itu bersumpah dengan menyebut nama Allah kepada keduanya, إِنِّى لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ “Sesungguhnya aku adalah ter· masuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.” Artinya, sesungguhnya aku (syaitan) sudah ada di sini (Surga) sebelum kalian dan lebih mengetahui tempat ini. Dan hal ini termasuk dalam masalah mufaa’alah (keterkaitan antara satu sama lain. Dan maksudnya adalah salah satu sisi. [40]

  • Al-A’raf [7]: 27

Imam Asy-Syaukani menjelaskan: Allah Swt mengemukakan tentang penciptaan dengan ungkapan ‘Menurunkan’. Yakni: Telah Kami ciptakan untuk kamu pakaian yang dapat menutupi aurat kamu yang ditampakkan oleh iblis pada kedua orang tuamu. As-Sau’ah adalah al ‘aurah (aurat), sebagaimana yang telah dipaparkan. Pembahasan tentang kadarnya dan bagian yang wajib ditutupi telah dijelaskan di dalam berbagai pembahasan tentang  furu’.

Firman-Nya, وريشا  (dan pakaian indah untuk perhiasan). Al-Hasan, ‘Ashim dari riwayat Al-Mufadhdhal Adh-Dhabbi dan Abu ‘Amr dari riwayat Al-Hasan bin Ali Al-Ju’fi membacanya : ورياشا  . Sedangkan yang lainnya membaca وريشا. Ar-Riyaasy adalah jamak dari ar-riisy, yakni al-libaas (pakaian). AlFarra’ mengatakan, “Riisy dan riyaasy seperti labs dan libaas. Riisy ath-thaair (sayap burung) adalah apa yang dengannya Allah menutupinya.”

Ada yang mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan ar-riisy di sini adalah kemakmuran dan kemewahan hidup. Al Qurthubi mengatakan, “Menurut mayoritas pakar bahasa, bahwa ar-riisy adalah sesuatu yang dapat menutupi, yaitu berupa pakaian atau penghidupan.”

Yang dimaksud dengan “libaas at-taqwaa” adalah pakaian takwa dan menjauhi kemaksiatan terhadap Allah. Yakni menjauhkan diri dari dosa dan takut kepada Allah, maka itulah sebaik-baik pakaian dan seindah-indah perhiasan. Ada juga yang mengatakan, bahwa pakaian takwa adalah malu. Ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah amal sholih.

Pendapat pertama lebih tepat, dan itu merupakan semua yang mengandung ketakwaan terhadap Allah, sehingga mencakup pula semua yang disebutkan oleh pendapat-pendapat lainnya. Segolongan ahli ilmu berdalih dengan menyatakan bahwa melihat setan adalah tidak mungkin, namun dalam ayat ini tidak ada yang mengindikasikan demikian, karena intinya adalah, bahwa setan itu dapat melihat kita dari tempat yang kita tidak dapat melihatnya. Ini bukan berarti kita tidak dapat melihat selamanya, karena penafian dari kita terhadapnya ketika dia bisa melihat kita tidak memastikan penafian secara mutlak.

Kemudian Allah swt. mengabarkan, bahwa Allah menjadikan para setan itu sebagai pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman, yaitu orang-orang kafir.

Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan: Allah swt. menganugerahi hamba-hamba-Nya pakaian dan pakaian indah yang diciptakan untuk mereka. (menutup aurat). Apa yang dijadikan memperindah. Yang pertama adalah dharurat (kebutuhan primer) dan yang kedua termasuk takammulat dan tahsinat (pelengkap, kebutuhan sekunder, dan tersier). Wahai anak Adam, ingatlah nikmat Allah kepada kalian dan kepada bapak kalian, Adam, sebelumnya, yakni kebutuhan agama dan dunia yang Aku penuhi untuk kalian, seperti pakaian dan pakaian indah untuk menutup aurat, menikmati perhiasan dan keindahan, serta menjaga diri dari panas dan dingin.

Makna penurunan pakaian dari langit adalah menciptakannya, memproduksi bahannya, seperti katun, wool, bulu unta, sutra, bulu burung yang dikehendaki oleh kebutuhan manusia. Kemudian, manusia belajar cara membuat dan menjahit pakaian dengan ilham dari Allah. Anugerah nikmat pakaian dan keindahan ini adalah dalil kebolehan memakainya. Ini sesuai dengan fitrah manusia, yaitu suka keindahan dan tampil di depan orang. Disunakan memuji Allah dan bersyukur ketika memakai pakaian baru.

  • An-Nahl [16]: 63

Buya Hamka menjelaskan dalam tafsirnya: “Demi Allah! Sesungguhnya telah Kami utus.” (pangkal ayat 63). Akan Rasul-rasul. “Kepada ummat-ummat yang sebelum engkau.” Hebat perjuangan Rasul-rasul itu mengajak mereka agar menuruti garis yang ditunjukkan Tuhan yang mereka bawa. “Tetapi syaitan telah menyanjung-nyanjung amalan mereka.” Disanjung-sanjung, dipujipuji; yang batil dikatakan hak oleh syaitan, yang salah dikatakan benar. “Maka dialah.” Yakni syaitan itu: “Pemimpin mereka pada hari itu. ” Untuk dihalau bersama-sama ke dalam neraka. “Dan bagi mereka adalah azab yang pedih.” Oleh sebab syaitan yang menjadi wali atau pemimpin mereka di hari itu, sedang syaitan itu sendiri pun akan kena azab, tentu dijelaskanlah di sini bahwa bergantung kepada syaitan, adalah laksana bergantung di akar lapuk. Maka dari masa hidup di dunia ini, jelas-jelaslah menjauhkan diri dari syaitan dan ikuti pimpinan Allah yang dibawa oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul, sehingga selamatlah sampai kepada hari perhitungan itu kelak.[41]

Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan juga: Ayat ini merupakan penghibur hati dari Allah SWT. kepada Rasul-Nya, atas kesedihan yang beliau alami akibat kejahilan kaum beliau dan sikap mereka yang berpaling dari risalah beliau.تَٱللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَآ demi Allah, sungguh Kami benar-benar telah mengutus sebelum kamu rasul-rasul, kepada umat-umat terdahulu. Lalu umat-umat itu mendustakan para rasul mereka dan setan pun menjadikan kekafiran dan penyembahan berhala tampak baik di mata mereka. Setan adalah penolong mereka di dunia menurut persangkaan mereka. ladi, kata al yauma di sini maksudnya adalah waktu di dunia, sebagai bentuk menceritakan keadaan yang sedang berlangsung pada masa lampau. Akan tetapi, bagi mereka ada adzab yang memilukan di akhirat. Ada yang mengatakan (فهو وليهم) setan adalah rekan mereka di neraka pada hari Kiamat. fadi, menurut pandangan ini, kata al-Yauma di sini maksudnya adalah hari Kiamat, sebagai bentuk menceritakan keadaan yang sedang berlangsung di masa yang akan datang yaitu ketika mereka diadzab di neraka. Yakni, setan itu adalah penolong mereka pada hari ini, yaitu pada hari Kiamat pada saat ketika mereka diadzab dalam neraka, tidak ada penolong bagi mereka selain setan. Ini adalah bentuk peniadaan penolong bagi mereka dengan ungkapan yang paling kuat. Karena setan tidak bisa menolong dirinya sendiri, apalagi sampai menolong orang lain. Kata (اليوم) digunakan untuk menyebutkan hari Kiamat karena memang penggunaan seperti ini sudah populer. Setan adalah seburuk-buruk penolong yang tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk menolong dan menyelamatkan mereka. Di akhirat, mereka memperoleh adzab yang sangat menyakitkan, karena bersekutu dengan setan tidak berguna bagi mereka dan tidak memberikan manfaat sedikit pun untuk mereka. Karena itu, wahai Muhammad kamu tidak perlu bersedih hati atas sikap kaummu yang mendustakan dirimu. Hal yang sama juga dialami oleh para rasul sebelum kamu. Kamu tidak usah memedulikan orang-orang musyrik yang mendustakan para rasul, karena mereka telah menjadi mangsa tipu daya setan yang menjadikan apa yang mereka lakukan itu tampak baik di mata mereka.

Selanjutnya, Allah SWT. menerangkan bahwa kebinasaan tidak terjadi melainkan setelah ditegakkannya hujjah ( وما انزلنا عليك الكتاب ) sesungguhnya Kami menurunkan Alquran kepadamu karena suatu tujuan yang jelas, yaitu agar kamu menerangkan kepada manusia tentang apa yang selalu mereka perselisihkan menyangkut masalah-masalah akidah dan ibadah. Sehingga mereka bisa mengetahui yang benar dan yang batil. Alquran adalah pemberi putusan final di antara manusia menyangkut apa yang selalu mereka perselisihkan. Alquran adalah petunjuk bagi hati yang kebingungan tak tahuarah atau tersesat, serta rahmatbagi orangorang yang membenarkan dan memercayainya serta berpegang teguh kepadanya. [42]

Imam Al-Qurthubi menjelaskan juga: Firman Allah تَٱللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلهم “Demi Allah, sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau (Muhammad), tetapi setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan mereka (yang buruk).”

Maksudnya amal perbuatan mereka yang buruk. Hal ini umtuk menghibut Nabi SAW. bahwa para nabi terdahulu juga telah diingkari oleh kaumnya. فهو وليهم اليوم  “Maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu.” Maksudnya, pertolongan mereka ketika di dunia menurut anggapan mereka. اليوم “Di hari itu.” Maksudnya, di hari kiamat. Disebut dengan اليوم “Di hari itu,” katerna sangat terkenal.

Ada yang berpendapat, “Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat, ‘inilah penolong kalian maka mintalah pertolongan kepada nya agar menyelamatkan kalian dari azab’ dalam rangka mencela mereka”[43]

  • Fathir [35]: 6

Buya Hamka menjelaskan dalam tafsirnya: Dalam ayat lanjutan ini dikatakan pula jangan sampai diperdayakan lagi oleh penipu lain atau tukang memperdayakan yang lain. Siapa penipu lain selain dari dunia itu? Penipu yang lain itu ialah setan. Ini dijelaskan pada lanjutan ayat 6; “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kamu.” Ini diperingatkan oleh Tuhan sejak permusuhan yang timbul sejak nenek moyang manusia, yaitu Adam. Ketika beliau telah diciptakan oleh Allah disuruh malaikat-malaikat bersujud kepadanya. Iblis pun turut dapat perintah, sebab kedudukannya waktu itu telah disamakan dengan malaikat; sebab sama-sama beribadah kepada Allah, meskipun asal kejadian tidak sama. Malaikat terjadi dari Nur, dan iblis terjadi dari api. Meskipun asal kejadian berlainan, ketaatan kepada Tuhan menjadikan mereka dianggap sama. Tetapi seketika para malaikat telah sujud karena melaksanakan perintah, iblis tidak mau, karena dia membanggakan asal kejadiannya jauh lebih mulia dari Adam. Dia dari api, sedang Adam dari tanah.

Sejak itu telah tumbuh permusuhan karena kedengkian. Kemudian mulailah iblis melakukan siasatnya ketika memperdayakan dan merayu Adam agar memakan buah terlarang dari pohon khulud. Karena halus bujukannya sampailah buah itu termakan dan larangan Tuhan terlanggar. Inilah lanjutan permusuhan. Kemudian mereka semua disuruh hidup di dalam bumi ini. Waktu itulah iblis mengatakan kata dan bersumpah di hadapan Tuhan bahwa dia akan memperdayakan manusia dan semua keturunannya. Tetapi dia pun menyatakan juga bahwa manusia yang selalu memperhambakan diri kepada Tuhan tidaklah dia berani akan mengganggunya. Inilah yang diperingatkan Tuhan dalam ayat, bahwasannya setan yaitu keturunan iblis adalah musuh bubuyutan, musuh turun temurun dari kamu, hal manusia: “Sebab itu anggaplah dia sebgai musuh.” Orang yang memang sudah memusuhi, apalagi sudah turun-temurun seperti itu, hendaklah dianggap musuh. Jangan berkompromi dengan musuh, selalulah awas, waspada, jangan lengah, jangan teledor, karena tegasnya ialah bahwa yang dapat diajak oleh setan ialah orang yang bersimpati kepada setan, orang yang tidak tegas menyatakan permusuhan kepadanya. Itulah yang diajaknya, dirayunya, dan ditipunya.

Maka tidaklah ada suatu ajakan setan pun yang akan mengajak kamu masuk ke surga. Keinginannya selalu hanyalah membawamu ke neraka, biar sama-sama sengsara dengan dia. Dengan demikian lepaslah dendam kesumat yang telah beribu-ribu tahun itu. Dan itulah perjuangan kita di muka bumi ini.[44]

  • Fushilat [41]: 25

Dalam Tafsir Hidayatul Insan dijelaskan bahwa: Mereka yang berbuat dosa secara terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan karena mereka tidak mengetahui pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka akan jadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka. Ketika kamu melakukan  maksiat, oleh karena itu kamu lakukan perbuatan yang telah kamu lakukan yang menjadi penyebab kamu binasa dan celaka sebagaimana diterangkan pada ayat selanjutnya.

Yaitu dugaan yang tidak sesuai dengan kebesaran-Nya, yang merugikan dirimu, keluargamu, dan agamamu karena amal yang didasari dugaan buruk kepada Allah, kamu pun berhak memperoleh ketetapan azab dan kesengsaraan, serta berhak kekal dalam azab, dimana azab itu tidak akan diringankan darimu walaupun sesaat. Sehingga tidak ada lagi kesabaran bagi mereka. Setiap keadaan masih bisa diberlakukan kesabaran, akan tetapi untuk menghadapi neraka maka tidak akan bisa bersabar. Bagaimana bisa seseorang bersabar terhadap api yang sangat panas yang diberi kekuatan 69 kali lipat api di dunia (sebagaimana diriwaytkan dalam hadits muslim), minumannya air mendidih dan ghassaq (nanah penghuni neraka atau air yang sangat dingin), alat pukul untuk memukul penghuni neraka begitu besar, para penjaganya kasar yang sudah tidak memiliki rasa kasihan lagi kepada mereka, dan diakhiri dengan kemurkaan Allah beserta firman-Nya ketika mereka memohon pertolongan kepada-Nya.

Juga dalam Tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa: Di pangkal ayat ini dibukakan Tuhan pula ssalah satu rahasia yang menyebabkan manusia terjerumus kepada suatu kesalahan tindakan hidup, yaitu adanya teman-teman. Adanya kawan-kawanyang maksud mereka tidak baik. Yang selalu memuji-muji, menyanjung, mengatakan baik suatu tindakan salah. Tidak ada yang berani menegur terus-terang jika ada kesalahan. Perbuatan yang sedang dihadapan mereka puji, perbuatan mereka yang tempo hari pun dipuji, padahal ternyata tindakan yang salah. Manusia yang lemah tidak dapat membebaskan diri dari pengaruh pujian kawan.

Orang-orang besar dan berjabatan tinggi, raja-raja dan menteri-menteri kerap kali disesatkan oleh pujian bithanah, yaitu orang-orang yang sekeliling. “Benar, Tuanku!”, “Tepat sekali, tuanku!”, maka oleh karena kebiasaan kena pujian, sukarlah beliau mendengarkan kalau ada celaan. Asal ada orang mengkritik atau menyalahkan perbuatannya orang itu sudah disangla memusuhinya. Lama-kelamaan orang itu dapat dituduh “musuh negara”, lalu disingkirkan dengan jalan kasar atau dengan jalan halus. Dibuat-buatkan fitnah untuk memfitnah dia, dan menyingkirkannya. Lama-lama negara yang dia pimpin menjadi sengsara, rakyat bertambah melarat dan yang kenyang hanya orang-orang yang dekat dengan beliau saja. Dalam ayat ini terseliplah suatu penjelasan dari Tuhan, yaitu dalam kalangan makhluk gaib itu, yaitu jin berlaku juga ketentuan sebagai manusia. Mana yang taat mengerjakan peraturan Tuhan selamatkan mereka dan mana yang tidak mematuhinya pun akan mendapat azab dan siksaan.

KLASIFIKASI MASALAH AYAT

Dari pembahasan yang telah kami jelaskan, maka terdapat beberapa permasalahan yang muncul:

  1. Siapa itu iblis, setan dan jin, dan apa perbedaannya?
  2. Apa yang selalu dilakukan dan dibisikkan oleh iblis, setan dan jin kepada manusia? Mengapa bisikan setan disebut tipuan?
  3. Bagaimana iblis dan setan mempengaruhi manusia melalui makanan?
  4. Bagaimana iblis dan setan mempengaruhi manusia terhadap akidahnya sehingga kita harus masuk Islam secara total?
  5. Bagaimana iblis dan setan mempengaruhi manusia melalui perdagangan? Apa itu riba?
  6. Mengapa bagi setiap nabi dan rasul pasti ada musuhnya? Untuk apa?
  7. Apa tujuan setan membuat manusia berbuat syirik kepada Allah swt.?
  8. Mengapa iblis dan keturunan-keturunannya menjadi musuh abadi bagi nabi Adam as. dan keturunannya?
  9. Mengapa iblis dan setan menginginkan manusia untuk menjadi penggila dunia?

ANALISA MASALAH AYAT

Menjawab masalah yang pertama, malaikat, jin dan manusia adalah makhluk-makhluk yang diciptakan oleh Allah swt. Namun, pertanyaan mengenai siapa iblis dan siapa setan yang menjadi tema pokok pembahasan kita kali ini, pasti selalu muncul di benak kita. Dari pembahasan-pembahasan yang telah kami sampaikan pada poin sebelumnya maka kita bisa menjelaskan bahwa pada mulanya hanya ada tiga jenis makhluk yang diciptakan oleh Allah, yaitu: malaikat yang diciptakan dari cahaya, kemudian jin yang diciptakan dari lidah api dan manusia yang diciptakan dari saripati tanah.

Lantas, dari mana dan siapa setan dan iblis itu? untuk menjawab pertanyaan ini pertama-tama kita bisa melihat tafsiran surat Al-Kahfi ayat 50, kemudian ke surat Al-An’am ayat 112 dan 113. Pada surat Al-Kahfi ayat 50, di sana dijelaskan oleh Allah swt. tentang kisah pada masa lalu, di mana ketika Allah swt. hendak menciptakan manusia di muka bumi, yakni nabi Adam as., dan berdialog dengan para malaikat,[45] dan Allah swt. mengajarkan berbagai hal kepada nabi Adam as. Kemudian, nabi Adam as. mampu menyebutkan dan menjelaskan apa yang diajarkan oleh Allah swt. kepadanya, hingga para malaikat dan sebagian bangsa jin pun terkagum kepadanya. Kemudian, Allah swt. pun memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam as. sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Akan tetapi, ada sebagian bangsa jin yang enggan bersujud kepada nabi Adam as. Dikarenakan kesombongan mereka dan merasa bahwa dirinya lebih baik daripada Adam as. Maka kemudian Allah swt. melaknatnya dan memberi mereka julukan sebagai Iblis. Kemudian, Allah swt. mengusir mereka semua dari surga. Ini sekaligus menjawab masalah pada nomor 8. Bangsa jin sangat memusuhi nabi Adam as. beserta keturunannya karena ia merasa lebih baik dari Adam as. dan merasa lebih pantas untuk disanjung ketimbang nabi Adam as., serta kebenciannya pada nabi Adam as. karena ia dianggap lebih baik dan hebat ketimbang yang lainnya, sehingga seluruh makhluk saat itu diperintahkan untuk bersujud kepadanya.

Jadi, iblis adalah sebagian dari kalangan jin yang membangkang dan sombong kepada Allah swt. ketika Allah swt. memerintahkannya untuk bersujud kepada nabi Adam as. Jadi, iblis itu bukan berasal dari kalangan malaikat, tapi dari kalangan jin yang membangkang dan durhaka kepada Allah swt.

Kemudian, kita lanjut ke pembahasan siapa itu setan? Sebagaimana telah disinggung pada penafsiran Sayyid Qutub dalam tafsirnya tentang surat Al-An’am ayat 112 dan 113. Bahwasanya setan itu adalah nama bagi sebuah sifat yang suka membangkang, sombong, durhaka dan selalu membisikkan kejahatan kepada orang lain. Setan itu bisa berasal dari kalangan jin maupun manusia. Tentu, pembahasan mengenai siapa itu setan ini, sangat berkaitan erat dengan pembahasan mengenai siapa itu iblis. Karena, dari kisah yang diceritakan pada surat Al-Kahfi ayat 50 dan munasabahnya dengan ayat yang lain, di sana diceritakan bahwa ketika iblis sudah dilaknat oleh Allah swt. dan diusir dari surga, mereka berjanji kepada Allah swt. akan menyesatkan nabi Adam as., istrinya dan keturunannya. Dan mereka pun memohon kepada Allah swt. agar umurnya ditangguhkan oleh Allah swt. sampai hari kiamat. Allah swt. pun menyetujuinya dan mengizinkan iblis untuk menggoda dan menyesatkan hamba-hamba Allah swt., dan memberikan umur yang panjang sampai hari kiamat. Maka, dari sini tujuan iblis adalah untuk menyesatkan nabi Adam as. beserta keturunannya sampai hari kiamat. Dan alhasil langkah pertama mereka berhasil, dengan menggoda istri nabi Adam as., Hawa, dan ia membujuk suaminya juga untuk sama-sama memakan buah Khuldi yang telah dilarang oleh Allah swt. untuk memakannya, hingga akhirnya mereka pun dihukum dan diturunkan oleh Allah swt. ke bumi. Dari kisah ini, apa yang dilakukan iblis merupakan sifat yang dinamakan setan.

Sesungguhnya Allah swt. Maha Kuasa atas segala kehendak-Nya, jika ia bermaksud membuat para pembangkang itu tetap taat kepada-Nya, itu bukanlah masalah besar, bahkan hanyalah hal sepele bagi-Nya. Tapi, di sini Allah swt. berkehendak untuk membiarkan para pembangkang dari setan iblis tersebut untuk menggoda hamba-Nya sebagai bentuk ujian dan penyaringan dari para hamba-Nya, siapa saja yang memang benar-benar beriman kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya iman. Dan siapa yang benar-benar bertakwa kepada Allah swt. dengan sebenar-benarnya takwa, sehingga mereka layak untuk menempati surga-Nya Allah swt. Dan juga menyaring di antara hamba-Nya siapa saja yang menjadi pengikut kesesatan dan tipuan dari ucapan setan, sehingga tempat kembali mereka adalah neraka-Nya.

Selanjutnya, setelah keturunan nabi Adam as. beranak pinak ke seluruh penjuru muka bumi, setan dari kalangan iblis ini membujuk juga sebagian jin yang lainnya untuk sama-sama menggoda manusia agar mereka mengikuti langkah-langkah sesatnya. Maka, setan dari kalangan jin pun bertambah banyak. Kemudian, setelah itu sebagian manusia banyak yang berhasil disesatkan oleh setan iblis, dan Allah swt. melihat bahwa kesesatan dan kesyirikan mulai merajalela di muka bumi, ia pun mengutus nabi berikutnya untuk meluruskan akidah yang sesat ini, dan mengembalikannya kepada akidah yang hak. Lalu, Allah swt. pun mengutus para nabi dan rasul sepanjang sejarah kehidupan manusia seperti nabi Idris as., nabi Nuh as., nabi Ibrahim as., nabi Musa as., dan keseluruhan 25 nabi dan rasul sampai nabi Muhammad saw. untuk selalu membimbing umat manusia agar tidak bergeser akidahnya menjadi akidah yang sesat.

Lalu, sekaligus menjawab masalah pada poin nomor 6, ketika para nabi dan rasul telah diutus oleh Allah swt. ke muka bumi untuk meluruskan kembali manusia yang telah disesatkan oleh para setan iblis dan berbuat kesyirikan di muka bumi. Para manusia sudah merasa bahwa apa yang dilakukannya benar, sehingga ketika datang para nabi dan rasul yang mengajarkan ajaran yang berbeda di antara manusia, mereka pun bersama-sama menolaknya. Tapi atas kekuasaan Allah, Allah swt. memberikan mukjizat kepada para nabi dan rasul-Nya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah benar-benar utusan dari Tuhannya.

Kemudian setelah peristiwa tersebut, maka ada sebagian manusia yang mulai mempercayai dan mengimani para nabi dan rasul itu sebagai utusan Allah swt. dan Allah swt. sebagai Tuhannya. Namun, sebagian manusia masih ada yang tetap kekeh dengan kepercayaannya, menolak apa yang disampaikan oleh utusan Allah tersebut. Ini disebabkan oleh pengaruh setan iblis. Setan iblis ini membisikkan kepada para manusia dengan perkataan-perkataan yang indah, merayu, dan membujuk manusia agar senantiasa berpegang dengan kesesatannya, dan ia diiming-imingi oleh setan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada para utusan Allah dan pengikut-pengikutnya. Padahal apa yang dibisikkan setan itu tidak lain hanyalah tipuan belaka.

Sebagian manusia yang menolak ajaran yang dibawa oleh utusan Allah ini, dan yang saling membisikkan kejahatan serta apa yang dikatakan setan pada dirinya kepada manusia lainnya, inilah yang disebut setan manusia. Setan iblis dan setan manusia ini adalah benar-benar musuh bagi setiap nabi dan rasul Allah swt. Mereka selalu menampakkan permusuhan, kebencian, serta penolakan terhadap apa yang dibawa oleh utusan Allah swt. tersebut. Seperti yang diceritakan dalam Alquran, bahwa benarlah setiap nabi dan rasul memiliki musuh yang dihadapinya, seperti nabi Nuh as. dengan kaumnya, bahkan dengan keluarganya sendiri. Kemudian, nabi Ibrahim as. dengan raja Namrudz yang kejam, nabi Musa as. dengan Firaun yang mengaku sebagai tuhan, nabi Isa as. kepada kaumnya, dan nabi Muhammad saw. kepada bangsa Quraisy.

Para musuh-musuh yang dihadapi oleh utusan Allah ini berarti menghadapi setan manusia, dan juga setan iblis. Sesungguhnya, setan manusia itu bisa menjadi manusia yang kembali ke jalan yang lurus, jika Allah swt. sudah menghendakinya. Dan sesunggunya, setan iblis atau sebagian bangsa jin juga bisa menjadi hamba yang taat, jika Allah swt. juga menghendakinya untuk mendapat hidayah. Sebagaimana dalam Alquran surat Al-Jinn ayat 1 dan 2:

قُلۡ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا  ١ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ فَ‍َٔامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا  ٢

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Alquran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (1) (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, (2). (QS. Al-Jinn [72]: 1-2)

Jadi, sesungguhnya jin juga tidak semuanya sesat, tapi ada juga yang taat pada Allah swt.

Akan tetapi, ada juga sebagian manusia yang walaupun telah datang hidayah dan kebenaran kepadanya, ia tetap enggan untuk menerimanya dan kekeh memusuhi utusan-Nya. Hal ini dikarenakan ia telah termakan omongan setan iblis yang penuh tipuan, rayuan dan bujukan indah. Padahal sekali-kali mereka tidaklah mampu untuk menepati janji mereka, justru mereka akan melepas tanggung jawab atas janji mereka ketika di akhirat nanti, sebagaimana yang telah dijelaskan pada penafsiran di atas pada Alquran surat An-Nisa ayat 120. Ini sekaligus menjawab masalah nomor 2.

Kemudian, untuk menjawab masalah nomor 4 dan 7, kisahnya seperti ini: Bila telah berlalu (baca: wafat) setiap rasul dari setiap kaumnya dan zamannya, maka setan-setan ini semakin gencar melakukan aksinya untuk kembali menyesatkan umat manusia. Ada sebagian yang tetap teguh pada keimanannya, namun tak sedikit pula yang jatuh termakan omongan mereka.

Kepada para manusia yang teguh ini, para setan semakin menggoda mereka dari berbagai macam arah. Mula-mula, sama dengan manusia lainnya, mereka menggoda akidah mereka agar dapat disesatkan, seperti misalnya, setan membisikkan suatu usaha agar para manusia berhenti menyembah Allah, yaitu dengan memberikan hati manusia keraguan terhadap ibadah kepada Allah, dan menjadikan berhala sebagai haluan ibadahnya. Bila, masih ada manusia yang tidak berhasil ia kelabui akidahnya agar menyembah berhala, kemudian setan pun beralih pada usaha berikutnya, yaitu seperti misal menganggap suatu benda peninggalan nabi sebelumnya itu mempunyai kuasa magis, dan mempunyai energi positif, sehingga digunakan untuk berbagai macam ritual kesyirikan. Setan pun  terus membisikkan hal-hal seperti tahayul dan khurafat kepada manusia, agar akidahnya meski tetap mengimani Allah, tapi prakteknya mengandung unsur-unsur kesyirikan. Akan tetapi, bila orang-orang tetap teguh iman, kemudian mereka menolak dan membantah kesyirikan tersebut, setan kemudian menempuh usaha lainnya.

Bila unsur akidah gagal digoda dan disesatkan oleh setan, kemudian setan pun mulai mempengaruhi unsur ibadahnya. Bila dalam unsur akidah ada istilah tahayul dan khurafat, dalam unsur ibadah ini ada yang dinamakan bidah. Ini adalah masalah paling berbahaya, karena bila dalam tahayul dan khurafat kita bisa mengetahui letak salahnya di mana, dan kita pun bisa merasakan kesalahan tersebut, tetapi untuk bidah ini, pelakunya tidak akan merasa salah terhadap apa yang dilakukan olehnya pada ibadahnya.

Agama Islam sejak selesai dakwah para nabi dan rasul bagi setiap umatnya dan daerahnya, pasti sudah sempurna, dan manusia tidak boleh menambah-nambahkan apa-apa ke dalam ajaran Islam selain yang dibawa oleh para utusan Allah tersebut. Namun, dalam masalah bidah ini, orang tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang menambah-nambah syariat Islam. Dan bahayanya, ia akan terus melakukan dosa tersebut sampai ia sadar atau disadarkan orang. Akan tetapi, sulit menyadarkan orang yang suka melakukan bidah, karena merasa apa yang dilakukan benar dan ada tuntunannya.

Kemudian, bila setan tidak berhasil menggoda manusia pada akidah dan ibadahnya, setan pun akan menggoda dan menyesatkan manusia melalui muamalahnya. Muamalah yakni seperti apa yang menjadi kebutuhan pokok manusia, seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal, serta apa yang menjadi kebutuhan manusia dalam mencari rizki seperti berdagang atau lainnya, bergaul dengan manusia lain, dsb.

Setan kemudian mencari celah melalui makanan. Dalam celah ini, setan menggoda manusia agar mereka mendapatkan makanan sesuai dengan apa yang diinginkan hati manusia. Entah itu makanan yang bisa ia beli, atau makanan yang selama ini ia impikan mampu memakannya. Setan memberi janji kepada mereka, kalau mereka mampu mengikuti apa yang dibisikkan setan, mereka akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Misal, seseorang ingin makan pizza, tapi ia tidak mempunyai uang untuk membeli makanan tersebut. Pada situasi seperti ini, setan dapat mempengaruhi pikiran manusia dengan janji-janji atau iming-imingan yang manis supaya manusia tersebut dapat makan pizza. Tapi jalan yang dibisikkan setan adalah dengan jalan mencuri atau jalan haram lainnya. Ini merupakan salah satu kesempatan setan untuk membujuk manusia supaya taat padanya dan tidak memperdulikan aturan Allah swt., yang penting perut mereka terpenuhi, dengan hal-hal yang diinginkannya. Padahal Allah swt. sudah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halal lagi baik, sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Dan padahal sesungguhnya, janji setan itu merupakan tipu daya belaka. Di dunia, para pengikut bisikan setan akan merasa bahagia dan bebas. Tapi, pada saat di akhirat nanti, setan akan berlepas tanggung jawab bila ditanya oleh Allah: “Siapa yang memerintahkanmu untuk memakan makanan yang haram?” sedangkan kita menjawab: “Para setan.”, di sana, setan yang dulunya kita taati dan kita jadikan pemimpin, tidak akan menolong kita sama sekali, malah mengantar kita bersamanya ke neraka. Pembahasan ini menjawab masalah nomor 3.

Hal lainnya yang menjadi kesempatan setan dalam memperdaya manusia melalui muamalah adalah dengan riba, dari perdagangan manusia dalam mencari rezeki. Riba merupakan salah satu jalan pintas untuk cepat mendapatkan uang atau rezeki, namun caranya tidak dibenarkan. Sesuatu yang tidak dibenarkan dalam syariat maka hukumnya haram. Konsep riba, tentu sangat merugikan lawan bisnisnya. Di satu pihak, sang pebisnis akan tetap mendapat keuntungan, meskipun bisnisnya mengalami kerugian, tapi lawan bisnisnya akan tercekik, karena mesti membayar uang ke pebisnis, meski ia mengalami kerugian. Maka dari itu, hal ini tidak dibenarkan oleh syariat.

Setan selalu membujuk manusia agar menggunakan sistem riba agar cepat mendapatkan harta yang berlimpah. Karena memang, kekayaan juga merupakan salah satu hal yang sangat disukai oleh manusia. Tapi dalam hal mencari harta, tidak dibenarkan bila harus menggunakan sistem riba. Pembahasan ini menjawab permasalahan nomor 5.

Terakhir, setelah menilik segala tindak-tanduk, gerak-gerik serta sepak terjang yang dilakukan oleh setan iblis dan setan manusia dalam upaya menyesatkan hamba Allah swt., Allah swt. menghimbau dan memperingati manusia agar masuk islam, menerima islam beserta syariatnya secara keseluruhan, dan bertekad menolak segala bisikan setan yang menyerang ranah akidah kita, ibadah kita, serta muamalah kita. Allah swt. pun memperingati agar kita tidak pernah mengikuti langkah-langkah yang dilakukan setan. Karena, semanis apapun janji yang diberikan oleh setan kepada manusia, itu tidak akan pernah terjadi. Yang ada kita malah akan menderita suatu saat nanti di akhirat kelak. Sebab, setan hanya menginginkan manusia itu melihat dunia saja, tidak memperdulikan bahkan tidak mempercayai adanya akhirat. Siapa saja yang hanya melihat dunia, Allah tidak akan memberikan baginya kesempatan menikmati surga. Dan inilah justru yang diinginkan oleh setan. Agar hamba-hamba Allah tidak bisa kembali ke tempat asalnya di surga, dan justru menjadi teman bagi iblis dan keturunan-keturunannya di akhirat.

Maka dari itu, tinggalkanlah hal-hal yang berbau pada khurafat, tahayul dan bidah, serta hal-hal lainnya yang selalu dibisikan setan untuk menyesatkan manusia. Sebab, setan tidak akan pernah rida membiarkan seorang hamba masuk surga tanpa melewati ujian-ujian yang berat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 214 dan surat Ali-Imran ayat 142:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah [2]: 214)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali-Imran [3]: 142)

Tinggalkan segala tahayul, bidah dan khurafat, serta terima seluruh syariat Islam dengan hatimu, dan dengan sepenuh-penuhnya takwa.

  1. KESIMPULAN AYAT

Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapatlah ditarik sebuah kesimpulan:

  1. Jin adalah makhluk Allah swt. yang diciptakan dari lidah api. Malaikat adalah makhluk Allah swt. yang diciptakan dari cahaya. Sedangkan manusia adalah makhluk Allah swt. yang diciptakan dari saripati tanah. Adapun setan, setan adalah nama bagi sebuah sifat yang selalu memerintahkan kepada kejelekan, kejahatan, kekejian, kesombongan, kedurhakaan, dan kesesatan. Baik pelakunya adalah jin maupun manusia. Bila dari jin, ia adalah iblis.
  2. Setan selalu membisikkan kejelekan, kejahatan, kekejian, kesombongan, kedurhakaan dan kesesatan kepada setiap hati manusia. Dan menyesatkan mereka agar tidak menaati Allah swt. Mereka menjanjikan kepada manusia bila mau mendengarkan segala perintahnya, dan mengabaikan perintah Allah, maka manusia itu akan mendapat kenikmatan di dunia dan katanya di akhirat. Padahal itu semua adalah bohong belaka. Sebab setan sendiri tidak akan pernah mendapatkan kenikmatan di akhirat, justru kesengsaraanlah tempat kembalinya.
  3. Setan mempengaruhi manusia agar memakan segala makanan, tanpa peduli ada batasan yang telah Allah swt. tetapkan untuk dimakan. Yang penting perut mereka terpenuhi kebutuhannya.
  4. Tujuan utama setan untuk menyesatkan manusia adalah agar mereka tidak menyembah kepada Allah swt. Maka, tujuan utama mereka adalah menyesatkan akidah di hati manusia. Seperti membisikan kesyirikan, tahayul dan khurafat, serta mitos-mitos. Namun, bila gagal menyesatkan akidah manusia, setan akan beralih menyesatkan ranah ibadah mereka. seperti menambah-nambahkan suatu ibadah yang sebenarnya tidak ada contohnya dari Allah swt. dan para utusan-Nya. Bila masih gagal, setan akan menyesatkannya melalui muamalah manusia. Yaitu seperti makanan, usaha atau pekerjaan, dsb. Maka dari itu, perintah Allah swt. agar masuk secara total adalah dengan meninggalkan segala bentuk tahayul, khurafat, bidah, serta riba dan makanan haram. Dan melarang segala langkah setan lainnya.
  5. Riba itu adalah sikap yang tidak disukai oleh Allah, maka jika orang yang melakukan riba dengan terus-menerus dan dia tidak mau memohon ampun kepada Allah, maka pada hari kiamat kelak dia akan mendapatkan balasan dari Allah swt. dengan balasan yang sangat menyeramkan, itu juga termasuk perbuatan setan. Maka dari itu, ayat ini menjelaskan pada kita agar kita tidak akan pernah melakukan riba, dan selalu memohon ampun pada Allah swt.
  6. Allah swt. menjadikan bagi setiap nabi dan rasul berupa musuh-musuhnya, sebagai bentuk ujian untuk menyaring hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan layak masuk surga-Nya.
  7. Tujuan setan agar manusia berbuat syirik kepada Allah merupakan tujuan utamanya. Yakni agar tidak ada yang menyembah kepada Allah, melainkan menyembah kepada mereka (para setan). Sebab menaati mereka sama dengan menyembah mereka.
  8. Permusuhan abadi antara nabi Adam as. beserta keturunannya dengan iblis as. beserta keturunannya sudah dimulai sejak awal mula penciptaan manusia. Hal ini dikarenakan iblis tidak menyukai nabi Adam as. yang dianggap memiliki kecerdasan dan mendapatkan hormat dari seluruh makhluk. Ia membencinya karena merasa bahwa dirinya lebih baik daripada nabi Adam as. Ia tercipta dari api dan Adam as. tercipta dari saripati tanah. Akibat kesombongannya ini, dan durhaka terhadap perintah Allah swt. untuk bersujud kepada Adam as., menyebabkan ia dilaknat dan diusir dari surga. Kemudian, atas kejadian itu, ia berjanji kepada Allah swt. akan selalu menyesatkan seluruh umat manusia, dan ia meminta izin kepada Allah agar umurnya ditangguhkan sampai hari kiamat, agar terus bisa menyesatkan manusia.
  9. Mengapa setan sangat menginginkan manusia sebagai penggila dunia? Karena jika manusia haluan hidupnya hanya demi dunia saja, maka ia tidak akan mendapatkan kesempatan sedikitpun untuk menikmati akhirat. Dan inilah yang sangat diinginkan oleh setan dan menjadi tujuan hidupnya.

[1] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 1. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, Cetakan ke-1, 2013), hlm. 328. Lihat juga: Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Alquranul Majid An-Nuur Jilid 1. (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, Cetakan ke-2, 2000), hlm. 264. Lihat juga: Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 2. (Pustaka Azzam), hlm. 480.

[2] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 1. Terjemahan: Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, Cetakan ke-1, 2013), hlm. 328. Lihat juga: Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., dkk. (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, Cetakan ke-4, 2005), hlm. 320.

[3] Jalaludin Abi Abdurrahman As-Suyuthi, Asbabun Nuzul. (Beirut: Mu`assasah Al-Kutub Ats-Tsaqafiyah, Cetakan Pertama, 2002), hlm. 41.

[4] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 1. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, Cetakan ke-1, 2013), hlm. 466.

[5] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 4. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2016), hlm. 298.

[6] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 8. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani), hlm. 267.

[7] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 1. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, Cetakan ke-1, 2013), hlm. 328. Lihat juga: Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Alquranul Majid An-Nuur Jilid 1. (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, Cetakan ke-2, 2000), hlm. 264. Lihat juga: Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 2. (Pustaka Azzam), hlm. 480. Lihat juga: Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., dkk. (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, Cetakan ke-4, 2005), hlm. 320.

[8] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur`an Jilid 1. (tanpa keterangan penerbit), hlm. 245. (z-lib.org)

[9] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 4. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2016), hlm. 300.

[10] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 3. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm. 272.

[11] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M. (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, 2003), hlm. 412.

[12] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 10. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M. (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, 2003), hlm. 68-69

[13] M Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, hlm. 686-687

[14] Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Juz XVI (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hlm. 4502-4503

[15] Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari Jilid 12. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al-Bakri, dkk. (tanpa kota terbit: Pustaka Azzam),hlm. 341

[16] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., dkk. (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, Cetakan ke-4, 2005), hlm. 320.

[17] Sofyan Efendi, dkk, Risalah Muslim, https://risalahmuslim.id/quran/thaa-haa/20-117/ (Diakses pada 20 Juni 2020).

[18] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur`an Jilid 1. (tanpa keterangan penerbit), hlm. 184. (z-lib.org)

[19] HR. At-Thabrani no. 6495. Hadis ini adalah hadis Gharib, status hadis ini adalah Dhaif, karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Al-Hasan bin ‘Abdurrahman yang dinilai tertuduh berdusta. Namun ada kritikus hadis yang menilai bahwa dia adalah orang yang tsiqah seperti Abu Hatim bin Hibban, sedangkan sebagian lain menilainya berdusta, ikhtilath, dan tidak tsiqah. Al-Jurjani berkomentar bahwa hadis yang diriwayatkan olehnya tidak menyerupai para ahli hadis sedikitpun. Dan pada sanad ini juga terdapat dua rawi lagi yang dinilai tidak dapat dipertanggungjawabkan hadisnya, ialah Abu ‘Abdullah dan Muhammad bin ‘Isa.

[20] Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Alquranul Majid An-Nuur Jilid 1. (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, Cetakan ke-2, 2000), hlm. 264.

[21] Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Jilid 1. (tanpa kota terbit: Pustaka Nasional PTE LTD), hlm. 375. Lihat juga: Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 1. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, Cetakan ke-1, 2013), hlm. 329. Lihat juga: Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., dkk. (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, Cetakan ke-4, 2005), hlm. 320.

[22] Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 2. (Pustaka Azzam), hlm. 480. Lihat juga: Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari Jilid 2. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al-Bakri, dkk. (Pustaka Azzam), hlm. 743.

[23] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 1. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, Cetakan ke-1, 2013), hlm. 467.

[24] Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Jilid 1. (tanpa kota terbit: Pustaka Nasional PTE LTD), hlm. 483.

[25] A. D. El-Marzdedeq, Parasit Aqidah – Selintas Perkembangan dan Sisa-sisa Agama Kultur. (Bandung: Yayasan Ibnu Ruman), hlm. 70.

[26] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur`an Jilid 4. (tanpa keterangan penerbit), hlm. 191. (z-lib.org)

[27] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, 2003), hlm. 320.

[28] Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Jilid 3. (tanpa kota terbit: Pustaka Nasional PTE LTD), hlm. 2148.

[29] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 4. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2016), hlm. 300.

[30] Lihat: HR. Al-Bukhari no. 5943; Muslim no. 2127; At-Tirmidzi no. 2782.

[31] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur`an Jilid 3. (tanpa keterangan penerbit), hlm. 81. (z-lib.org). Lihat juga: Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 3. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2016), hlm. 272. Lihat juga: Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Jilid 2. (tanpa kota terbit: Pustaka Nasional PTE LTD), hlm. 1439. Lihat juga: Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, 2003), hlm. 412. Lihat juga: Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari Jilid 7. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al-Bakri, dkk. (tanpa kota terbit: Pustaka Azzam), hlm. 765.

[32] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur`an Jilid 7. (tanpa keterangan penerbit), hlm. 324. (z-lib.org).

[33] Lihat: HR. Muslim no. 2998

[34] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur`an Jilid 7. (tanpa keterangan penerbit), hlm. 324. (z-lib.org). Lihat juga: Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 8. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani), hlm. 267. Lihat juga: Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Jilid 6. (tanpa kota terbit: Pustaka Nasional PTE LTD), hlm. 4209. Lihat juga: Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, 2003), hlm. 268. Lihat juga: Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari Jilid 17. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al-Bakri, dkk. (tanpa kota terbit: Pustaka Azzam), hlm. 209. Lihat juga: Al-Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi. Ta’liq: Muhammad Ibrahim Al-Hifnawi (Pustaka Azzam), hlm. 1067.

[35] Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari Jilid 7. Tahqiq: Ahmad Abdurraziq Al-Bakri, dkk. (tanpa kota terbit: Pustaka Azzam), hlm. 677-679.

[36] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Akidah, Syariah, & Manhaj Jilid 7. Terj. Abdul Hayyie al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2016), hlm. 550.

[37] Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir Jilid 4. (Pustaka Azzam), hlm. 21-24.

[38] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, 2003), hlm. 356-358

[39] Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir Jilid 4. (Pustaka Azzam), hlm. 34-35.

[40] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M., (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi`i, 2003), hlm. 361.

[41] Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Jilid 3. (tanpa kota terbit: Pustaka Nasional PTE LTD), hlm. 3930.

[42] Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir (Aqidah, Syari’ah, Manhaj) JILID 7, (GEMA INSANI), hal. 415-416

[43] Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 10. (Pustaka Azzam), hlm. 304-305.

[44] Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Jilid 1. (tanpa kota terbit: Pustaka Nasional PTE LTD), hlm. 375.

[45] Lihat: Munasabah surat Al-Kahfi ayat 50 dengan surat Al-Baqarah ayat 34.

Scroll to Top